Latest News

Showing posts with label Kristologi. Show all posts
Showing posts with label Kristologi. Show all posts

Wednesday, February 25, 2015

SIAPAKAH YESUS KRISTUS DITINJAU DARI TIGA ERA KEBERADAANNYA

SIAPAKAH YESUS KRISTUS DITINJAU DARI TIGA ERA KEBERADAANNYA


Oleh: Albert Rumampuk
Yesus Kristus adalah pribadi yang luar biasa. Tak ada pemimpin agama didunia ini yang sefenomenal tokoh ini. Ia bukan saja dihormati, di puji dan di sembah oleh para pengikut-Nya, tetapi juga di hina, di caci dan di anggap sebagai mahluk ciptaan belaka. Tak terelakkan pro dan kontra mengenai tokoh ini menimbulkan perdebatan yang sengit. Para sarjana dan pemuka agama melakukan diskusi/adu argumentasi tentang diri-Nya.

Jika ingin mengetahui dengan benar siapakah Yesus Kristus yang sesungguhnya, maka kita tidak boleh hanya melihat salah satu bagian dari eksistensi-Nya. Ini sangat penting, karena kalau hanya melihat satu sisi saja, maka pemahaman kita pasti keliru/menyesatkan. Misalnya: kalau melihat Yesus hanya pada saat Dia ada di dunia, maka bisa saja disimpulkan bahwa Dia hanyalah seorang manusia biasa, orang saleh, utusan Tuhan, nabi, dan sebagainya.

Oleh karena itu, kita harus melihat keseluruhan keberadaan Kristus, bukan hanya saat berada di dunia, tapi saat Dia belum di dunia dan setelah Dia naik ke sorga. Inilah yang saya maksudkan dengan tiga ‘era’ keberadaan-Nya: Masa Pra-inkarnasi, masa inkarnasi dan keberadaan Kristus setelah naik ke sorga.


A.  Keberadaan Yesus Kristus dalam kekekalan masa lampau (Pra-Inkarnasi)
“Berfirmanlah Allah: Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita…” (Kej. 1:26).

Kata “kita” dalam ayat diatas, merupakan kata ganti orang bentuk jamak yang menunjuk kepada Allah. Kejadian 1:26 merupakan ayat yang pertama kali mengindikasikan adanya semacam “kejamakan tertentu” dalam diri Allah. Ayat tsb mencatat adanya perundingan ilahi sebelum proses penciptaan manusia.Tetapi aneh, disini terlihat bahwa penciptaan itu dilakukan oleh lebih dari satu pribadi. Jika memang Sang pencipta itu ada dalam bentuk yang “jamak,” lalu siapakah pribadi-pribadi itu? Jika kita hanya melihat pada satu ayat ini saja, maka kita tak bisa memastikan siapa-siapakah yg dimaksudkan di ayat tsb. Tentunya kita harus mempelajari keseluruhan ayat-ayat yang berhubungan dgn teks itu, kemudian bisa menyimpulkannya dengan benar.

Kej 1:26 merupakan salah satu dasar dari doktrin Allah Tritunggal dan sebetulnya mencatat keberadaan Kristus pra-inkarnasi, namun masih belum jelas/kabur.

1.  Kekekalan Yesus Kristus

“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” (Yoh 1:1).

Yunani: “En arche en ho logos kai ho logos en pros ton theon kai theos en ho logos”

Kata “Firman” dalam ayat ini berbicara tentang Yesus (lihat ayat 14). Yesus Kristus sebelum hadir didunia disebut sebagai “Firman.” Bahkan, dalam teks ini Yesus dinyatakan sebagai “Allah”. Mestinya itu merupakan bukti yg sangat kuat tentang keilahian Yesus. Tetapi para Saksi Yehuwa menterjemahkan kata Yunani “THEOS” (dibagian akhir ayat tsb), dengan “suatu allah” (yang bukan Allah sejati). Seorang pengkotbah Kristen bahkan mengatakan bahwa Tuhan Yesus adalah ciptaan Allah, ciptaan pertama.

Tabloid Gloria“.. Diketahui rekaman khotbah berdurasi 36 menit 48 detik ini, menyebutkan Tuhan Yesus adalah ciptaan. Hal ini berdasarkan Wahyu 3:14 yang berbunyi “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodekia : Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah” (LAI terjemahan 1974)…Yesus diciptakan Allah, namun Yesus adalah Allah itu sendiri… Selanjutnya, pengkotbah menjelaskan, bahwa Yesus itu yang keluar dari Bapa adalah ciptaan, ciptaan yang mula-mula sama dengan kita juga asalnya diciptakan. Namun perbedaannya adalah bahan kejadian (asal) kita berasal dari tanah sedangkan Yesus memakai bahan / tubuh-Nya Bapa..” (Sumber : Tim ‘Kontra Bidat-Paguyuban AMIN’, Dikutip dari Tabloid Gloria, edisi 379 – Minggu V November 2007. Ini merupakan khotbah dari Ev. Yusak Tjipto, tentang Kitab Wahyu bag. 7).

Ajaran seperti ini sungguh kacau karena secara logika-pun pernyataan diatas tak bisa diterima sebab merupakan sebuah inkonsistensi/kontradiksi. Di satu sisi si pengkotbah mengajarkan bahwa Yesus adalah ciptaan (yang tentunya memiliki permulaan/diawali waktu). Tetapi disisi lain dia mengatakan bahwa Yesus adalah Allah itu sendiri (yang tidak diawali oleh waktu). Dua hal yang saling bertabrakan!

Tetapi bagaimana dengan kesaksian Alkitab? Benarkah Yesus adalah mahluk ciptaan? Berikut adalah komentar Dr. Marantika tentang teks dalam Yoh 1:1. 

“Kata-kata ‘pada mulanya’ diterjemahkan dari ungkapan kata-kata bahasa Yunani ‘en’ yang berarti ‘di dalam’ atau ‘pada’ dan ‘arche’ yang berarti ‘purbakala’ (tanpa artikel), maka ini berarti purbakala itu tak terbatas (timeless existence). Ditambah pula dengan penggunaan bentuk ‘imperfect’ yaitu keterangan waktu ‘past continuous’ bagi kata ‘adalah’ (en), maka teranglah sudah yang dimaksudkan disini adalah masa lampau yang tak terbatas atau kekekalan masa lampau. Kata ‘bersama-sama dengan’ berasal dari kata ‘pros’ (face to face) yang dalam pikiran Yunani berarti satu kesatuan, menunjukkan bahwa Kristus yang adalah Firman itu bukan saja ada terus menerus di masa lampau yang tak terbatas (kekal), juga menyatakan kesatuan-Nya dengan Allah” (Yesus Kristus Allah, manusia sejati, oleh Chris Marantika, Th.D, hal 15-16).

Kata ‘PROS’ dalam ayat itu yang diterjemahkan “bersama-sama dengan,” secara hurufiah berarti ‘face to face’ (berhadapan muka). Jadi, kata “Firman” di Yohanes 1:1 tentu menunjuk pada suatu pribadi. Dan keberadaan dari “Sang Firman”, merupakan keberadaan yang tanpa batas. Itulah makna kata “Pada mulanya” yang jika ditinjau dari bahasa aslinya, menunjuk pada masa lampau yang tak berawal/kekal.

Kekekalan Kristus di masa yang lampau, juga diungkapkan oleh nabi Mikha dan Yesaya, jauh sebelum kelahiran-Nya.

“Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala” (Mikha 5:1).

Ini merupakan nubuatan kelahiran Yesus di Betlehem, namun ditekankan bahwa Dia sudah ada sejak purbakala, sejak dahulu kala. Ungkapan ini mengandung pengertian waktu yang kekal, tiada hentinya.

“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai” (Yesaya 9:5).

Yesus disebut sebagai Bapa yang Kekal, istilah Ibraninya adalah ABI AD, yang seharusnya lebih tepat dikatakan Bapa dari keabadian / kekekalan. Disini bukan membicarakan pribadi Allah Bapa, tetapi pribadi Anak Allah (Yesus Kristus). Sebutan itu mengusulkan praeksistensi dan kekekalan; Ia menguasai zaman dan berada diatas waktu.

Para Rasul juga telah menyatakan hal ini dengan gamblang;

•    Yesus telah ada sebelum Yohanes ada (Yoh 1:15),

•    Yesus ada terlebih dahulu dari segala sesuatu (Kol 1:17).

Bahkan, Yesus sendiripun bersaksi tentang diri-Nya bahwa Dia telah ada sebelum Abraham.

“Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada” (Yoh 8:58).

NIV/NASB: Before Abraham was born, I am (= Sebelum Abraham dilahirkan, Aku adalah).

Yohanes 1:1, menunjukkan dengan jelas tentang keberadaan Yesus Kristus sebelum berinkarnasi; Pada masa lampau yang kekal, Ia terus menerus ada, tidak pernah suatu saat Dia tidak ada, Ia kekal adanya.

2.    Yesus Kristus adalah Pencipta

Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yoh 1:3).

Karya yang menonjol saat pra-inkarnasi adalah penciptaan.  Kitab Suci mencatat bahwa Yesus Kristus adalah pencipta segala sesuatu! “Segala sesuatu”, berarti semuanya, apapun itu !

Bandingkan dengan Kolose 1:16,

“Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia (Kol 1:16).

Pengertian “Segala sesuatu” disini, mencakup:

  Yang ada di sorga maupun di bum
  Yang kelihatan dan yang tidak kelihatan
  Singgasana maupun kerajaan
  Pemerintah maupun penguasa

Kata-kata “Tanpa Dia” dalam Yoh 1:3, menunjukkan bahwa Yesus adalah sumber dari segala sesuatu yang telah diciptakan. Tanpa-Nya maka tidak ada suatupun yang jadi. Dengan kata lain, tanpa Yesus, maka: Langit dan bumi, manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, para malaikat, dan segala yang ada, tidak akan pernah ada! Dengan demikian maka kata “Kita” di Kej 1:26 juga mencakup Yesus.

Kesimpulan yang dapat diambil tentang keberadaan Yesus sebelum hadir di dunia adalah:
--> “Sang Firman” yang adalah Yesus itu kekal adanya (Yoh 1:1)
--> Yesus adalah pencipta segala sesuatu (Yoh 1:3)

2 hal itu membuktikan secara tegas bahwa Yesus adalah Allah sejati/100% Allah tanpa kemanusiaan. Pada mulanya, Sang firman / Yesus bukanlah hanya sekedar kata-kata Allah saja, tetapi sejak masa lampau yang kekal Dia adalah suatu pribadi, Dia adalah Allah yang kekal, pencipta segala sesuatu!


B.    Keberadaan Yesus Kristus saat di dunia (Inkarnasi    Kristus)


Kristus berinkarnasi, menunjuk pada tindakan Anak Allah, yang mengambil bagi diri-Nya natur / hakekat tambahan yaitu natur manusia, melalui kelahiran dari seorang perawan.

“Kata ini berasal dari kata bahasa Latin IN [= in (= dalam)] + CARO / CARNIS [= flesh (= daging)]. Jadi, inkarnasi bisa diartikan ‘masuk ke dalam daging’. Tentu saja yang dimaksud dengan ‘daging’ bukan hanya tubuh, tetapi seluruh manusia.” (Christologi, oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div)

Ada orang-orang Kristen punya konsep yang salah tentang hal ini. Mereka menganggap bahwa ketika Allah berinkarnasi, Ia hanya menjadi manusia 100% saja, segala atribut / sifat-sifat keAllahan-Nya ditanggalkan-Nya. Ajaran seperti ini biasanya disebut dengan teori “Kenosis”. Tetapi apakah kata “Kenosis” harus berarti demikian?

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” Filipi 2:5-8

Teks ini dijadikan dasar oleh para penganut teori Kenosis untuk membenarkan pemahamannya. “Ajaran ini menandai doktrin bahwa Logos pada saat inkarnasi dilepaskan dari semua atribut-atribut ilahi-Nya, dijadikan sekedar suatu potensi saja, dan kemudian dalam persatuan dengan natur manusia, berkembang lagi menjadi pribadi Manusia-Ilahi.” (Teologi Sistematika, Berkhof, hal. 55).

Misalnya Matius 24:36 , disitu dijelaskan bahwa Yesus tidak maha tahu. Jadi karena Dia tidak maha tahu, maka berarti keilahian-Nya telah ditanggalkan-Nya. Tetapi, teori Kenosis ini salah! Mengapa? Karena di dalam diri Allah sama sekali tidak ada perubahan (Bdk. Maz 102:26-28). Ia tak pernah bisa berhenti menjadi Allah.

Paul Enns dalam bukunya The Moody Handbook of Theology, hal. 281 mencatat bahwa “Pengosongan” bukan merupakan pengurangan / penanggalan, tetapi merupakan penambahan. Perhatikan konteks dari Filipi 2:7-8

~    Mengambil rupa seorang hamba
~    Menjadi sama dengan manusia
~    Dalam keadaan / rupa manusia
~    Ia merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati

Jadi, pengosongan yang dimaksud dalam ayat ini bukanlah menanggalkan/melepas sesuatu yang tadinya ada, tetapi justru penambahan. Apa yang ditambahkan? Yang ditambahkan adalah hakekat yang baru / yang lain, yaitu hakekat manusia. Sehingga saat Anak Allah berinkarnasi, Dia menjadi Allah dan Manusia yang sejati.

“Mengosongkan diri” adalah sebuah tindakan yang menunjukkan kerendahan hati Allah yg begitu mulia dan agung (bdk. ayat 8b). Ini ditunjukkan lewat peristiwa inkarnasi. Inkarnasi juga membuktikan bahwa sebelumnya Yesus memiliki pra-eksistensi (Yoh 1:1; 6:38).

1.   Yesus Kristus adalah manusia sejati

“Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” Yesaya 7:14.

Ini adalah nubuat dari nabi Yesaya sekitar 700 tahun sebelum kelahiran Kristus. Dan dalam Matius 1:23; 2:6, nubuat itu terjadi secara tepat.

"Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" --yang berarti: Allah menyertai kita” Matius 1:23.

“Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel" Matius 2:6

Kelahiran Yesus dari seorang manusia (Maria), menunjukkan bahwa Yesus Kristus adalah anak manusia / manusia sejati. Berikut adalah beberapa alasan tentang kemanusiaan Yesus:

1.    Yesus memiliki unsur manusiawi

Tubuh (Mat 26:26,28; Luk 24:39) 

Jiwa / roh (Mat 27:50; Luk 23:46)

2.    Ia memiliki kelemahan-kelemahan manusia:

Lapar (Mat 4:2)
Sedih (Mat 26:37)
Tidur (Mat 8:24)
Haus (Yoh 19:28)
Mati (Yoh 19:30) 

 3.    Bertumbuh seperti manusia biasa (Luk 2:40-52)

 4.    Kitab suci mencatat bahwa Allah telah menjadi manusia (Yoh 1:14; 1Tim 3:16; 1Yoh 4:2)

Semua hal ini, menunjukkan bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh manusia yang sejati. Dalam segala hal, Dia sama dengan manusia kecuali dalam hal dosa. Dia tidak pernah melakukan dosa, Ia suci (2 Korintus 5:21; Ibrani 4:15; 7:26).

Pada abad-abad awal, masalah kemanusiaan Yesus sangat ditentang, tetapi yang terjadi sekarang, sebaliknya; ke-Allahan-Nya yang justru ditentang teologi Liberal dengan gencar mengekspresikan penyangkalan terhadap keAllahan Yesus. Kelompok Kristen Tauhid mengatakan bahwa Yesus pada mulanya adalah malaikat, Dia bukan Allah yang sejati. Saksi Yehova menganggap Yesus sebagai “allah kecil”, Dia bukan Allah dalam arti yang sebenarnya. Bahkan ada kelompok Kristen tertentu yang menganggap Yesus (Firman) itu hanyalah merupakan ‘sifat’ dari Allah tetapi bukan Allah.

Henney Sumali (dosen pakar dalam Kristen Orthodox Syria): “Suatu ketika Almarhum Nurchollis Madjid yang dipanggil akrab dengan Cak Nur bertanya Kristen Orthodox Syria, ajaran Allah Tritunggal itu penjelasan yang sebenarnya itu bagaimana? Lalu saya menjawab, yang satu adalah wujud Allah yang lain adalah sifat-sifat Allah. Dari penjelasan yang sederhana itu Cak Nur akhirnya mengetahui dan memahami apa maksud sebenarnya dari ajaran Tritunggal” kisah Henney. (Tabloid Gloria edisi 380 – Minggu I Desember 2007, halaman 6).

Pengertian Kristus adalah Allah, tidaklah berarti hanya mengatakan Ia “seperti Allah” atau Ia adalah manusia “setengah Allah” atau Ia “bersifat ilahi”. Kristus secara mutlak setara dengan Allah! Saat di dunia, Dia bukan hanya manusia sejati, tetapi juga adalah Allah yang sejati.

Bukti-bukti keilahian Kristus:

1.    Yesus Kristus memiliki sifat-sifat ilahi yang hanya  dimiliki oleh Allah:

*    Maha hadir                       

“ Jawab Yesus: "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia (Yohanes 14:23).

*    Maha tahu

“Dan sementara Ia di Yerusalem selama hari raya Paskah, banyak orang percaya dalam nama-Nya, karena mereka telah melihat tanda-tanda yang diadakan-Nya. Tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka, karena Ia mengenal mereka semua, dan karena tidak perlu seorangpun memberi kesaksian kepada-Nya tentang manusia, sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia (Yohanes 2:23-25).

“Sekarang kami tahu, bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya kepada-Mu. Karena itu kami percaya, bahwa Engkau datang dari Allah"  (Yohanes 16:30).   

*    Maha kuasa    

“Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa --berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu” (Markus 2:10).

*    Maha suci

Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? Apabila Aku mengatakan kebenaran, mengapakah kamu tidak percaya kepada-Ku?” Yohanes 8:46 (Bdk. Ibr. 4:15; 7:26).     

*    Sifat tetap / tidak berubah

“ Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibrani 13:8).

2.    Saat di dunia, Yesus disembah dan Dia menerima penyembahan itu.

•    Orang-orang menyembah-Nya

“Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku" (Matius 8:2).

“ Yesus mendengar bahwa ia telah diusir ke luar oleh mereka. Kemudian Ia bertemu dengan dia dan berkata: "Percayakah engkau kepada Anak Manusia?" Jawabnya: "Siapakah Dia, Tuhan? Supaya aku percaya kepada-Nya." Kata Yesus kepadanya: "Engkau bukan saja melihat Dia; tetapi Dia yang sedang berkata-kata dengan engkau, Dialah itu!" Katanya: "Aku percaya, Tuhan!" Lalu ia sujud menyembah-Nya (Yohanes 9:35-38).

•     Murid-murid menyembah-Nya

“ Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: ‘Sesungguhnya Engkau Anak Allah"  (Matius 14:33).

Ingat, dalam Mat 4:10 Yesus melarang untuk menyembah yg bukan Allah. Hanya Allah saja yg wajib disembah. Tetapi faktanya Yesus justru menerima penyembahan manusia. Itu membuktikan bahwa Dia adalah Allah itu sendiri.

3.    Yesus adalah Anak Allah

"Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah” (Yohanes 5:18).

“Jawab orang-orang Yahudi itu kepadanya: "Kami mempunyai hukum dan menurut hukum itu Ia harus mati, sebab Ia menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah" (Yohanes 19:7).

Pada saat itu, pada waktu Yesus menyebut diri-Nya sebagai Anak Allah, semua orang-orang Yahudi tahu bahwa Ia memaksudkan diri-Nya sebagai Allah.

4.    Adanya ayat-ayat yang menunjukkan Yesus adalah Allah

“Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!" (Yohanes 20:28)

“Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!” (Roma 9:5)

Kitab Suci menjelaskan bahwa sekalipun Yesus adalah seorang “manusia”, tetapi   Dia tetap disebut Allah.

5.    Kitab Suci menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah / Yahweh itu sendiri

“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai” (Yesaya 9:5).

“Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri. Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan, dan Israel akan hidup dengan tenteram; dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya: TUHAN--keadilan kita” (Yeremia 23:5-6).

Ini merupakan nubuat tentang Yesus yang akan lahir di dunia, tetapi anehnya, Dia tetap disebut sebagai Yahweh.

Kesimpulan yang dapat diambil tentang keberadaan Yesus pada saat di dunia adalah:

--->   Yesus Kristus adalah manusia sejati
--->   Yesus Kristus adalah Allah yang sejati

Kedua hakekat ini ada di dalam satu pribadi. Dalam keadaan-Nya sebagai Allah dan manusia sejati, ada semacam dualisme dalam diri Yesus; Di satu saat sisi keAllahan-Nya yang muncul tapi disaat yang lain, sisi kemanusiaan-Nya yang muncul, tetapi dalam semua hal ini Yesus tetap satu pribadi.

Akibat dari kesatuan dua natur / hakekat dalam diri Yesus, maka Dia disebut sebagai pribadi Theanthropik (Allah dan manusia). Keberadaan Yesus Kristus sebagai Allah dan manusia sejati, berlangsung seterusnya sampai selama-lamanya.


C.   Keberadaan Yesus Kristus setelah bangkit dan naik ke sorga


Memang tidak dapat dipungkiri bahwa Yesus pernah mati didunia ini. Tetapi fakta juga membuktikan bahwa Dia bangkit dari kematian! Pada hari yang ketiga, Dia bangkit dari antara orang mati (Kis 26:23; Kolose 1:18). Sebagai orang beriman, kita harus percaya baik kematian maupun kebangkitan-Nya. Kebangkitan Yesus dari antara orang mati, membuktikan bahwa Dia adalah Allah.

Namun yang jadi pertanyaannya adalah: setelah bangkit dan naik ke sorga, keberadaan Yesus seperti apa ? Dia adalah Allah sejati saja, atau Allah dan manusia, atau bagaimana?

1.    Sebagai manusia

Yang pertama, perhatikan ayat2 berikut:

“Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut” (Ibrani 2:14)

“Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa” (Ibrani 2:17).

Ayat ini sedang menjelaskan sisi kemanusiaan dari Yesus, Ia sama dengan kita yaitu terlahir dari darah dan daging.

Manusia, setelah mengalami kematian, sebetulnya dia tidak berhenti ada / tidak musnah, tetapi hanya berpindah tempat ke surga atau neraka. Dia tetap seorang manusia sampai selamanya walaupun berada di alam yang lain. Demikian pula dengan Yesus, saat lahir didunia sebagai manusia, “kemanusiaan-Nya” tidak pernah berhenti, Ia tetap sebagai manusia sampai selama-lamanya.

Ibrani 2:17 mencatat bahwa dalam segala hal, Yesus sama dengan manusia. Jadi dalam hal apapun, Dia sama dengan kita, kecuali satu hal yaitu dosa. Yesus Kristus adalah manusia tanpa dosa (Ibrani 4:15; 2 Korintus 5:21).

Kedua, setelah mengalami kematian, manusia Yesus itu bangkit secara jasmani dan naik ke surga dengan tubuh jasmani-Nya.

Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku." Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka” (Lukas 24:39-40).

“Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka, dan berkata kepada mereka: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga" (Kisah 1:9-11).

Ketiga, 1 Timotius 2:5 mencatat, saat di surga, Yesus tetap seorang manusia.

“Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus” 


Bandingkan dengan Ibrani 4:14-15


“Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita. Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa”.

Keempat, Lukas menjelaskan bahwa saat Yesus datang untuk kedua kalinya, Ia akan datang sebagai seorang manusia.

“Karena Ia telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati" Kisah 17:31

Bandingkan dengan Matius 16:27


“Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya”            

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa keberadaan Yesus sebagai manusia, itu bukan hanya ketika Ia terlahir didunia, menderita di salib sampai mati, tetapi juga setelah Dia bangkit dan naik ke surga dan sampai selama-lamanya.

C. Ryrie berkata: “Kelahiran perawan merupakan cara inkarnasi. Setelah digenapi, inkarnasi tersebut merupakan suatu pernyataan Allah yg abadi. Hal ini mulai sejak kelahiran-Nya dan berlanjut terus selama-lamanya (walaupun sekarang sudah dalam tubuh yang bangkit).” (Teologi Dasar 1, hal.359)

2.    Sebagai Allah

Salah satu sifat Allah yang tidak bisa dimiliki oleh semua mahluk hidup adalah sifat-Nya yang tetap / tidak berubah. Hewan dan tumbuh-tumbuhan suatu saat akan musnah. Manusia, hanyalah mahluk ciptaan-Nya yang pada mulanya tidak ada. Tetapi Allah, tetap ada, tahun-tahun-Nya tidak pernah berkesudahan Ia kekal bukan hanya ke masa lampau tetapi juga ke masa depan.

“Aku berkata: "Ya Allahku, janganlah mengambil aku pada pertengahan umurku! Tahun-tahun-Mu tetap turun-temurun!" Dahulu sudah Kauletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tangan-Mu. Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian, seperti jubah Engkau akan mengubah mereka, dan mereka berubah; tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahun-Mu tidak berkesudahan (Mazmur 102:25-28).

a)    Saat di surga Yesus disembah.

Rasul Yohanes mencatat, disurga Yesus akan menjadi sasaran penyembahan oleh segala mahluk.

 “Maka aku melihat di tengah-tengah takhta dan keempat makhluk itu dan di tengah-tengah tua-tua itu berdiri seekor Anak Domba seperti telah disembelih, bertanduk tujuh dan bermata tujuh: itulah ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi. Lalu datanglah Anak Domba itu dan menerima gulungan kitab itu dari tangan Dia yang duduk di atas takhta itu. Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus. Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya: "Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa. Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi." Maka aku melihat dan mendengar suara banyak malaikat sekeliling takhta, makhluk-makhluk dan tua-tua itu; jumlah mereka berlaksa-laksa dan beribu-ribu laksa, katanya dengan suara nyaring: "Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!" Dan aku mendengar semua makhluk yang di sorga dan yang di bumi dan yang di bawah bumi dan yang di laut dan semua yang ada di dalamnya, berkata: "Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya!" Dan keempat makhluk itu berkata: "Amin". Dan tua-tua itu jatuh tersungkur dan menyembah (Wahyu 5:6-14).

Bandingkan dengan Filipi 2:10-11

“Supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan,’ bagi kemuliaan Allah, Bapa!”

Tidak ada seorangpun manusia, malaikat atau setan yang layak menerima penghormatan, pujian dan penyembahan selain dari Allah sendiri! Disurga Yesus disembah, menunjukkan Dia adalah Allah!

b).  Yesus sendiri bersaksi; saat disurga, Dia adalah Allah yang kekal.

“Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia. Dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Ya, amin. ‘Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa(Wahyu 1:7-8).

Ayat ini, jelas berbicara tentang Yesus. Bandingkan dengan Wahyu 2:8,

"Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Smirna: Inilah firman dari Yang Awal dan Yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali”

Istilah “Alfa dan Omega” menunjuk pada kekekalan Kristus. Dia adalah Allah yang kekal.

Kesimpulan yang dapat diambil, tentang keberadaan Yesus saat disurga adalah:             

--->   Yesus Kristus adalah manusia sejat
--->   Yesus Kristus adalah Allah sejati

Kedua hakekat ini tetap ada didalam diri Kristus sampai selama-lamanya.

Kesimpulan akhir
  1. Pada mulanya, sebelum Anak Allah berinkarnasi (era pra-inkarnasi), Dia adalah Allah sejati tanpa kemanusiaan
  2. Setelah berinkarnasi (saat didunia), Dia adalah Allah dan Manusia sejati
  3. Saat naik ke surga, Dia tetap Allah dan Manusia sampai selama-lamanya. 


Penerapan & Penutup

Data Kitab Suci telah menunjukkan bahwa Yesus Kristus adalah Allah yang sejati. Saudara mau tinjau dari sisi yang manapun juga diseluruh era keberadaan Kristus, saudara tetap mendapati bahwa Dia adalah Allah seutuhnya. Terimalah Dia sebagai Tuhan dan juruselamat dalam hidup-mu, maka pengampunan dosa dan hidup yang kekal menjadi bagian anda.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah” (Yohanes 3:16-18).

“Dan di dalam Dialah setiap orang yang percaya  memperoleh pembebasan dari segala dosa, yang tidak dapat kamu peroleh dari hukum Musa.” (Kis 13:39).

“Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan” (Roma 10:9-10).

Bagi saudara yang telah beriman pada Yesus, bersyukurlah dan teguhkan iman saudara karena saudara ada di alamat yang tepat. Saudara menyembah Allah yang benar.
Memang ada ungkapan yang mengatakan “Banyak jalan menuju Roma”, tetapi Alkitab memberitahu bahwa hanya ada satu jalan menuju surga, yaitu lewat Yesus Kristus (Yoh 14:6).

Maukah saudara percaya pada-Nya? Semoga Tuhan memberi anugerah-Nya.

Sumber:

1) The Moody Handbook Of Theology; Paul Enns
2) Yesus Kristus Allah, manusia sejati; Chris Marantika
3) Teologi Sistematika; Louis Berkhof.
4) Christologi; Budi Asali, M.Div


source : https://albertrumampuk.blogspot.com/search?q=SIAPAKAH+YESUS+KRISTUS+DITINJAU+DARI+TIGA+ERA+KEBERADAANNYA

Wednesday, December 26, 2012

MANUSIA YESUS TIDAK KEKAL! (1)

MANUSIA YESUS TIDAK KEKAL! (1)
Yoh 1:1,14 - “(1) Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. ... (14) Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaanNya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”.
[https://ghm020220.blogspot.com/2012/12/manusia-yesus-tidak-kekal-1.html]
Pendahuluan.

Yang membuat saya menyusun khotbah ini pada perayaan Natal ini adalah karena saya menerima email dari seseorang, yang berbunyi sebagai berikut:

Halo pak Budi, maap mengganggu. Saya mempunyai pertanyaan mengenai Kristologi dan sepertinya berbau Apollinarisme. Dibawah ini adalah sebuah pertanyaan yang dijawab oleh Pdt. Stephen Tong. Saya kurang puas dengan jawaban pak Tong karena koq sepertinya bertentangan ddengan pengakuan iman Nicea dan tidak tegas dalam menjawab. Apalah pak Budi, bisa memberikan komentarnya? Terima kasih sebelumnya.
          
Question: Did the dual nature, divine and human, of Christbegin with the incarnation into His infancy and does it last forever? (Original: 稣的神人二性是从道成肉身包括婴儿期一直到永远吗?)
Answer: Jesus’s humanity, in terms of His bodily needs and bodily human nature, began with His incarnation, but would it it possible that Jesus’s humanity already existed with Him from all eternity?
This is a big theological question. If humankind was created in God’s image, and if humankind’s humanity is created from the humanity that is a part within the deity, then Jesus would have possessed from all eternity the humanity that is archetypal of humankind, so “humanity” and “human body” are two different things. Many theologians find their starting point in identifying Jesus’s humanity with the human body. If that is the case, does a human being’s humanity exist before he possesses a body? After we die [physically], do we lose our humanity? We still possess the human nature after we die, right? If you don’t, then you become a demonic ghost! We are still human after we die, albeit a human soul that has departed from the body. So, is Jesus Christ’s humanity necessarily bound to His bodily existence? My answer is, not absolutely so. Then, I’ll leave you some room to think this through. (Original: 稣的人性从他肉身的需要跟肉身的人的本性,是他降生以后有的,但是耶稣的人性和他永恒中间有没有可能就有呢?这是很大的神学问题。假如说人是照着上帝的 形像造的,那假如人的人性是从神性里面的人性的部份造出来的话,那耶稣就有在永恒的人的模范的那个本性,所以「人性」跟「人的身体」是两件事情。很多的神 学家把人的身体就是耶稣人性的基础。那么,人性在人没有身体的时候还存在吗?我们死了以后还有没有人性呢?我们死了以后还有没有人性啊?没有人性了,那你 变成鬼了!我们死了以后还是人,过是一个灵魂离开身体的人。所以,这样,耶稣基督的人性是不是一定跟他的肉身的存在结合在一起呢?我的答案是,不是绝对 的。那你们再思考,留一点空间给你们。Translation mine).


Terjemahan saya:
Pertanyaan: Apakah dua hakekat, ilahi dan manusiawi, dari Kristus mulai dengan inkarnasi ke dalam ke-bayi-anNya dan apakah itu bertahan selama-lamanya?
Jawab (dari Pdt. Stephen Tong)“Kemanusiaan Yesus, berkenaan dengan kebutuhan-
kebutuhan tubuhNya dan hakekat manusia jasmaniNya, mulai dengan inkarnasiNya, tetapi apakah memungkinkan bahwa kemanusiaan Yesus telah ada dengan Dia dari kekekalan? Ini merupakan suatu pertanyaan theologis yang besar. Jika umat manusia diciptakan dalam gambar Allah, dan jika kemanusiaan dari umat manusia diciptakan dari kemanusiaan yang merupakan suatu bagian di dalam keallahan, maka Yesus sudah mempunyai dari kekekalan kemanusiaan yang merupakan pola dari umat manusia, maka ‘kemanusiaan’ dan ‘tubuh manusia’ adalah dua hal yang berbeda. Banyak ahli theologia mendapatkan titik awal mereka dalam mengidentifikasi kemanusiaan Yesus dengan tubuh manusia. Jika itu adalah kasusnya, apakah kemanusiaan dari seorang manusia ada sebelum ia memiliki suatu tubuh? Setelah kita mati (secara jasmani), apakah kita kehilangan kemanusiaan kita? Kita tetap memiliki hakekat manusia setelah kita mati, benar? Jika kamu tidak memilikinya, maka kamu menjadi seorang hantu! Kita tetap adalah manusia setelah kita mati, sekalipun jiwa manusia telah meninggalkan / berpisah dari tubuh. Jadi, apakah kemanusiaan Yesus Kristus harus terikat pada keberadaan tubuh / jasmaniNya? Jawaban saya, tidak secara mutlak demikian. Jadi, saya memberi kamu tempat untuk memikirkan hal ini dalam-dalam.”



Catatan: bagian yang saya beri garis bawah tunggal betul-betul gila! Dari mana Pdt. Stephen Tong bisa beranggapan bahwa kemanusiaan adalah suatu bagian dalam keallahan? Apa dasarnya?

Juga bahwa Pdt. Stephen Tong membedakan antara ‘manusia Yesus’ dengan ‘kemanusiaan Yesus’, menurut saya merupakan omong kosong.

Dan ia menganggap (sekalipun tidak secara tegas) bahwa kemanusiaan Yesus itu kekal (sudah ada sebelum manusia Yesus itu ada), berdasarkan suatu argumentasi yang sangat konyol! Pada waktu seseorang mati, tentu saja ia tetap adalah manusia, karena sekalipun ada perpisahan antara tubuh dan jiwa / rohnya, tetapi jiwa / rohnya tetap ada. Tetapi sebelum orang itu ada dalam kandungan, jiwa / rohnya tidak ada, dan demikian juga dengan tubuhnya! Jadi seluruh manusia atau kemanusiaan (saya tak membedakan 2 hal ini) tidak mempunyai existensi sebelum manusia itu mulai ada dalam kandungan!

Bagian terakhir ini, tentang kekekalan dari manusia Yesus, adalah bagian yang ingin saya bahas dalam khotbah ini. Pdt. Stephen Tong bukan satu-satunya yang mempunyai pandangan seperti ini. Pdt. Petrus Pamuji (GKT / ITA Lawang) juga pernah berdebat dengan saya, dan dia berpandangan bahwa manusia Yesus kekal dan tidak dicipta. Ia bahkan ‘menantang’ saya dengan mengatakan kata-kata yang kurang lebih bunyinya adalah sebagai berikut: ‘Coba cari ahli theologia Reformed mana yang mengatakan bahwa manusia Yesus dicipta’. Dalam khotbah ini saya akan menjawab ‘tantangan’ itu.

Dan GKA bahkan mempunyai dalam pengakuan iman mereka kata-kata sebagai berikut: “Yesus Kristus adalah Anak Allah yang telah menjadi manusia (inkarnasi), Allah sejati dan manusia sejati yang memiliki dua natur dalam satu pribadi dari kekal sampai kekal”(1)
Kata-kata ini berarti natur / hakekat manusia Yesus juga dari kekal sampai kekal.

Saya menyusun khotbah ini bukan dengan tujuan untuk menyerang, merusak, menghancurkan, atau melakukan apapun yang negatif terhadap orang-orang / gereja-gereja yang mempunyai pandangan yang salah, bahwa manusia Yesus itu kekal. Maksud saya adalah untuk meluruskan, dan menyatakan apa yang saya anggap sebagai kebenaran dalam hal itu, dan mencegah orang-orang lain dari kesesatan dalam hal ini.


I) Argumentasi yang mendukung pandangan bahwa manusia Yesus itu kekal.

1)   1Kor 15:47 - “Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga.”.

Ini mungkin sekali ditafsirkan sebagai berikut: ‘manusia kedua’ jelas menunjuk kepada Yesus Kristus. Dikatakan bahwa manusiaNya berasal dari surga, menunjukkan bahwa manusiaNya sudah ada sebelum inkarnasi.

Jawab:

Louis Berkhof (‘Systematic Theology’, hal 334) mengatakan bahwa ajaran Anabaptist mengatakan bahwa Kristus membawa hakekat manusiaNya dari surga (berdasarkan 1Kor 15:47b) dan bahwa Maria hanya merupakan saluran melalui mana Ia datang ke dunia. Jadi hakekat manusiaNya betul-betul merupakan ciptaan yang baru, yang serupa / mirip dengan kita tetapi secara organic tidak berhubungan dengan kita.
Kalau ini benar, maka boleh dikatakan bahwa Kristus adalah semacam bayi tabung yang dimasukkan ke dalam kandungan Maria!
Louis Berkhof / ajaran Reformed menentang ajaran Anabaptist tersebut di atas, dan mengajarkan bahwa Kristus mendapatkan hakekat manusiaNya dari ibuNya / Maria. Dengan kata lain, sebagai manusia, Yesus berasal dari sel telur Maria. Sel telur Maria tidak kekal, dan karena itu, jelas manusia Yesus juga tidak mungkin kekal!

Louis BerkhofIn opposition to the teachings of the Anabaptists, our Confession affirms that Christ assumed His human nature from the substance of His mother. The prevailing opinion among the Anabaptists was that the Lord brought His human nature from heaven, and that Mary was merely the conduit or channel through which it passed. On this view His human nature was really a new creation, similar to ours, but not organically connected with it. The importance of opposing this view will be readily seen. If the human nature of Christ was not derived from the same stock as ours but merely resembled it, there exists no such relation between us and Him as is necessary to render His mediation available for our good. (= ) - ‘Systematic Theology’, hal 334.

Lalu bagaimana kita menjelaskan 1Kor 15:47b itu? Penjelasan ayat itu adalah sebagai berikut: Dalam Alkitab memang banyak ayat-ayat yang menggunakan sebutan / gelar yang hanya cocok untuk hakekat yang satu, tetapi menggunakan predikat yang hanya cocok untuk hakekat yang lain. Ini terbagi dalam 2 golongan:

a)   Ayat-ayat yang menyebut Kristus dengan sebutan / gelar ilahi, tetapi menggunakan predikat yang hanya cocok untuk hakekat manusia.


Contoh
:
1.   Kis 20:28 (NIV):  ‘... the church of God, which he bought with his own blood’ (= ... jemaat / gereja Allah, yang Ia beli dengan darahNya sendiri).


Catatan: dalam ayat ini TB1 - LAI salah terjemahan karena menterjemahkan ‘darah AnakNya’. Ini dibetulkan dalam TB2 - LAI yang menterjemahkan ‘darahNya’ (menghapus kata ‘Anak’ yang memang sebetulnya tidak ada dalam bahasa aslinya).
Ayat ini menggunakan sebutan / gelar ilahi (‘Allah’), tetapi predikatnya berbicara tentang ‘darah’, yang sebetulnya hanya cocok untuk hakekat manusia Yesus.
2.   1Kor 2:8 - “Tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenalnya, sebab kalau sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia.”.


Ayat ini menggunakan sebutan / gelar ilahi (‘Tuhan yang mulia’ / ‘The Lord of glory’), tetapi menggunakan predi­kat ‘menyalibkan’ yang sebetulnya hanya cocok untuk hakekat manusia Yesus.
3.   1Yoh 1:1 - “Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup - itulah yang kami tuliskan kepada kamu.”.


Ayat ini menggunakan sebutan / gelar ilahi (‘Firman’ / LOGOS), tetapi menggunakan predikat ‘telah kami lihat dengan mata kami’ dan ‘telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami’, yang sebetulnya hanya cocok untuk hakekat manusia Yesus.
4.   Wah 11:8 - “Dan mayat mereka akan terletak di atas jalan raya kota besar, yang secara rohani disebut Sodom dan Mesir, di mana juga Tuhan mereka disalibkan.


Ayat ini menggunakan sebutan / gelar ilahi (‘Tuhan’), tetapi menggunakan predikat ‘disalibkan’ yang sebetulnya hanya cocok untuk hakekat manusia Yesus.
5.   Ibr 7:14 - “Sebab telah diketahui semua orang, bahwa Tuhan kita berasal dari suku Yehuda dan mengenai suku itu Musa tidak pernah mengatakan suatu apapun tentang imam-imam”.


Ayat ini menggunakan sebutan / gelar ilahi (‘Tuhan’), tetapi menggunakan predikat ‘berasal dari suku Yehuda’, yang tentu saja hanya cocok untuk hakekat manusia Yesus.

b)   Ayat-ayat yang menyebut Kristus dengan sebutan / gelar manusia, tetapi menggunakan predikat yang hanya cocok untuk hakekat ilahi.


Contoh
:
1.   Mat 9:6 - “Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa’ - lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu - : ‘Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!’”.

Ayat ini menggunakan sebutan / gelar manusia (‘Anak Manusia’), tetapi menggunakan predikat ‘berkuasa mengam­puni dosa’ yang hanya cocok untuk hakekat ilahi.


2.   Mat 12:8 - 
“Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.’”.


Ayat ini menggunakan sebutan / gelar manusia (‘Anak Manusia’), tetapi menggunakan predikat ‘Tuhan atas hari Sabat’ yang hanya cocok untuk hakekat ilahi.


3.   Yoh 3:13 - “Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.”.


Ayat ini menggunakan sebutan / gelar manusia (‘Anak Manusia’), tetapi menggunakan predikat ‘telah turun dari sorga’ yang hanya cocok untuk hakekat ilahi.
4.   Yoh 6:62 - “Dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada?”.


Ayat ini menggunakan sebutan / gelar manusia (‘Anak Manusia’), tetapi menggunakan predikat ‘naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada’ yang hanya cocok untuk hakekat ilahi.


5.   1Kor 15:47 juga harus dijelaskan dengan cara yang sama.
1Kor 15:47b - “Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga.”.


Ayat ini menggunakan sebutan / gelar manusia (‘manusia kedua’), tetapi menggunakan predikat ‘berasal dari sorga’ yang hanya cocok untuk hakekat ilahi.
Dengan demikian ayat ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa manusia Yesus berasal dari surga, yang lalu dimasukkan ke dalam kandungan Maria, dan lebih-lebih lagi ayat ini tidak menunjukkan bahwa manusia Yesus itu kekal!

Calvin menjelaskan mengapa hal itu dilakukan dalam Alkitab dengan berkata sebagai berikut:
“And they (Scriptures) so earnestly express this union of the two natures that is in Christ as sometimes to inter­change them”  [= Dan mereka (Kitab-kitab Suci) begitu sungguh-sungguh mewujudkan kesatuan dari dua hakekat yang ada di dalam Kristus sehingga kadang-kadang menukar / membolak-balik mereka] - ‘Institutes of the Christian Religion’, book II, chapter XIV, 1.

“Because the selfsame one was both God and man, for the sake of the union of both natures he gave to the one what belonged to the other” (= Karena ‘orang’ yang sama adalah Allah dan manusia, demi kesatuan dari kedua hakekat, ia memberikan kepada yang satu apa yang termasuk pada yang lain) - ‘Institutes of the Christian Religion’, book II, chapter XIV, 2.

Westminster Confession of Faith, Chapter 8 No 7:
“Christ, in the work of mediation, acts according to both natures, by each nature doing that which is proper to itself; yet, by reason of the unity of the person, that which is proper to one nature is sometimes in scripture attributed to the person denominated by the other nature.” (= Kristus, dalam pekerjaan pengantaraan, bertindak sesuai dengan kedua hakekat, dengan setiap hakekat melakukan apa yang cocok bagi dirinya sendiri; tetapi, karena kesatuan pribadi, apa yang cocok untuk hakekat yang satu dalam Kitab Suci kadang-kadang dihubungkan dengan pribadi yang disebut dengan hakekat yang lain.).

2)   Theophany.
Theophany merupakan pemunculan Allah dalam bentuk manusia dalam Perjanjian Lama, dan biasanya para ahli theologia menganggap bahwa ini menunjuk kepada Yesus.

Kalau ini digunakan sebagai dasar, maka bacalah Kej 18-19.


Kej 18:1-2,16,22 - “(1) Kemudian TUHAN menampakkan diri kepada Abraham dekat pohon tarbantin di Mamre, sedang ia duduk di pintu kemahnya waktu hari panas terik. (2) Ketika ia mengangkat mukanya, ia melihat tiga orang berdiri di depannya. Sesudah dilihatnya mereka, ia berlari dari pintu kemahnya menyongsong mereka, lalu sujudlah ia sampai ke tanah, ... (16) Lalu berangkatlah orang-orang itu dari situ dan memandang ke arah Sodom; dan Abraham berjalan bersama-sama dengan mereka untuk mengantarkan mereka. ... (22) Lalu berpalinglah orang-orang itu dari situ dan berjalan ke Sodomtetapi Abraham masih tetap berdiri di hadapan TUHAN.”.


Kej 19:1 - Kedua malaikat itu tiba di Sodom pada waktu petang. Lot sedang duduk di pintu gerbang Sodom dan ketika melihat mereka, bangunlah ia menyongsong mereka, lalu sujud dengan mukanya sampai ke tanah,”.


Bdk. Ibr 13:2 - “Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.”.

Jadi jelas, bahwa di sana ada tiga orang, yang satu adalah Allah sendiri (Kej 18:22b; pada umumnya dianggap sebagai Allah Anak), sedangkan yang dua adalah malaikat (Kej 19:1  Ibr 13:2).
Jadi, kalau ini dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa pada saat itu Yesus betul-betul sudah adalah manusia, maka secara konsisten harus dikatakan bahwa malaikat-malaikat juga adalah manusia / mempunyai hakekat manusia! Dan ini akan menjadi suatu kekonyolan!

Jadi, Theophany hanya menunjukkan pemunculan Allah atau malaikat-malaikat dalam bentuk manusia, tetapi itu tidak berarti bahwa manusia yang mereka gunakan untuk menampilkan diri itu betul-betul ada!

Bdk. Dan 7:13 - “Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang SEPERTI anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapanNya.”.
Catatan: ini jelas juga adalah Theophany.

Komentar Calvin tentang kata-kata seperti anak manusia’ dalam Daniel 7:13:
“We must now see why he uses the word ‘like’ the Son of man; ... the Prophet says, ‘He appeared’ to him ‘as the Son of man,’ as Christ had not yet taken upon him our flesh. And we must remark that saying of Paul’s: ‘When the fulness of time was come, God sent his Son, made of a woman.’ (Gal. 4:4.) Christ then began to be a man when he appeared on earth as Mediator, for he had not assumed the seed of Abraham before he was joined with us in brotherly union. This is the reason why the Prophet does not pronounce Christ to have been ‘man’ at this period, but only ‘like man;’ for otherwise he had not been that Messiah formerly promised under the Law as the son of Abraham and David. For if from the beginning he had put on human flesh, he would not have been born of these progenitors. It follows, then, that Christ was not a man from the beginning, but only appeared so in a figure. ... This was a symbol, therefore, of Christ’s future flesh, although that flesh did not yet exist [= Sekarang kita harus melihat mengapa ia menggunakan kata ‘seperti’ Anak manusia; ... sang Nabi berkata ‘Ia muncul / kelihatan’ baginya ‘seperti Anak manusia’, karena Kristus belum mengambil bagiNya daging kita. Dan kita harus memperhatikan kata-kata Paulus itu: ‘Pada waktu kegenapan waktunya tiba, Allah mengutus AnakNya, dibuat dari seorang perempuan’. (Gal 4:4). Maka Kristus mulai menjadi / adalah manusia ketika Ia muncul di bumi sebagai Pengantara, karena Ia belum mengambil benih / keturunan Abraham sebelum Ia digabungkan dengan kita dalam persatuan persaudaraan. Ini adalah alasan mengapa sang Nabi tidak mengumumkan bahwa Kristus sudah adalah ‘manusia’ pada masa ini, tetapi hanya ‘seperti manusia’; karena kalau tidak, maka Ia bukanlah Mesias itu yang sebelumnya dijanjikan di bawah hukum Taurat sebagai anak / keturunan Abraham dan Daud. Karena seandainya dari semula Ia telah mengenakan daging manusia, Ia tidaklah dilahirkan dari para nenek moyang ini. Maka akibatnya adalah bahwa Kristus bukanlah seorang manusia dari semula, tetapi hanya terlihat demikian dalam suatu bentuk tubuh manusia. ... Karena itu, ini adalah suatu simbol, dari daging Kristus yang akan datang, sekalipun daging itu belum ada / belum mempunyai keberadaan].

Gal 4:4 - “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus AnakNya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.”.

3)   Ibr 13:8 - “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.”.
Ayat ini dianggap menunjukkan ketidakberubahan Yesus. Kalau manusia Yesus mempunyai titik awal / tidak kekal, maka Yesusnya berubah, dari Allah saja, menjadi sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia.

Jawab:

a)   Kebanyakan penafsir menafsirkan bahwa yang dimaksudkan dengan tidak berubah dalam ayat ini bukanlah Yesusnya sendiri ataupun existensiNya, tetapi hal-hal lain tentang Yesus, seperti kedaulatanNya, pemerintahanNya, hubunganNya / sikapNya kepada kita yang adalah orang-orang percaya, dsb.

Calvin (tentang Ibr 13:8)“‘Jesus Christ the same,’ etc. The only way by which we can persevere in the right faith is to hold to the foundation, and not in the smallest degree to depart from it; for he who holds not to Christ knows nothing but mere vanity, though he may comprehend heaven and earth; for in Christ are included all the treasures of celestial wisdom. This then is a remarkable passage, from which we learn that there is no other way of being true, wise than by fixing all our thoughts on Christ alone. Now as he is dealing with the Jews, he teaches them that Christ had ever possessed the same sovereignty which he holds at this day; ‘The same,’ he says, ‘yesterday, and today, and forever.’ By which words he intimates that Christ, who was then made known in the world, had reigned from the beginning of the world, and that it is not possible to advance farther when we come to him. ‘Yesterday’ then comprehends the whole time of the Old Testament; and that no one might expect a sudden change after a short time, as the promulgation of the Gospel was then but recent, he declares that Christ had been lately revealed for this very end, that the knowledge of him might continue the same for ever. It hence appears that the Apostle is not speaking of the eternal existence of Christ, but of that knowledge of him which was possessed by the godly in all ages, and was the perpetual foundation of the Church. It is indeed certain that Christ existed before he manifested his power; but the question is, what is the subject of the Apostle. Then I say he refers to quality, so to speak, and not to essence; for it is not the question, whether he was from eternity with the Father, but what was the knowledge which men had of him. But the manifestation of Christ as to its external form and appearance, was indeed different under the Law from what it is now; yet there is no reason why the Apostle could not say truly and properly that Christ, as regarded by the faithful, is always the same. (= ).

Matthew Henry (tentang Ibr 13:8)First, From the immutability and eternity of the Lord Jesus Christ. Though their ministers were some dead, others dying, yet the great head and high priest of the church, the bishop of their souls, ever lives, and is ever the same; and they should be stedfast and immovable, in imitation of Christ, and should remember that Christ ever lives to observe and reward their faithful adherence to his truths, and to observe and punish their sinful departure from himChrist is the same in the Old-Testament day, in the gospel day, and will be so to his people for ever. (= ).

Adam Clarke (tentang Ibr 13:8)“‘Jesus Christ the same yesterday.’ In all past times there was no way to the holiest but through the blood of Jesus, either actually shed, or significantly typified. Today - he is the lamb newly slain, and continues to appear in the presence of God for us. Forever - to the conclusion of time, he will be the way, the truth, and the life, none coming to the Father but through him; and throughout eternity, ‎EIS ‎‎TOUS ‎‎AIOONAS‎, it will appear that all glorified human spirits owe their salvation to his infinite merit. This Jesus was thus witnessed of by your guides, who are already departed to glory. Remember HIM; remember them; and take heed to yourselves.” (= ).

Barnes’ Notes (tentang Ibr 13:8)“‘Jesus Christ the same yesterday ...’ As this stands in our common translation, it conveys an idea which is not in the original. It would seem to mean that Jesus Christ, the unchangeable Saviour, was the end or aim of the conduct of those referred to, or that they lived to imitate and glorify him. But this is by no means the meaning in the original. There it stands as an absolute proposition, that ‘Jesus Christ is the same yesterday, today, and forever;’ that is, that he is unchangeable. The evident design of this independent proposition here is, to encourage them to persevere by showing that their Saviour was always the same; that he who had sustained his people in former times, was the same still, and would be the same forever. The argument here, therefore, for perseverance is founded on the ‘immutability’ of the Redeemer. If he were fickle, vacillating, changing in his character and plans; if today he aids his people, and tomorrow will forsake them; if at one time he loves the virtuous, and at another equally loves the vicious; if he formed a plan yesterday which he has abandoned today; or if he is ever to be a different being from what he is now, there would be no encouragement to effort. Who would know what to depend on? Who would know what to expect tomorrow? For who could have any certainty that he could ever please a capricious or a vacillating being? Who could know how to shape his conduct if the principles of the divine administration were not always the same? At the same time, also, that this passage furnishes the strongest argument for fidelity and perseverance, it is an irrefragable proof of the divinity of the Saviour. It asserts immutability - sameness in the past, the present, and to all eternity but of whom can this be affirmed but God? It would not be possible to conceive of a declaration which would more strongly assert immutability than this. (= ).

Pulpit Commentary (tentang Ibr 13:8)Ver. 8 must be taken as a distinct appended sentence, the watchword on which the preceding exhortation is based. Its drift is that, though successive generations pass away, Jesus Christ remains the same - the Savior of the living as well as of the departed, and the Savior of all to the end of timeIt may be here observed that, though his eternal Deity is not distinctly expressed - for ‘yesterday’ does not of necessity reach back to past eternity - yet the sentence can hardly be taken as not implying it. For his unchangeableness is contrasted with the changing generations of men, as is that of Jehovah in the Old Testament (e.g. in Ps 90:2-4), and surely such language would not have been used of any but a Divine Being. (= ).

Catatan: dalam bagian yang saya beri garis bawah ganda dari kutipan dari Barnes maupun Pulpit Commentary, terlihat bahwa mereka juga menerapkan ketidak-berubahan itu kepada diri Yesus sendiri, dan mereka gunakan untuk membukitkan keilahian Yesus. Jelas mereka tidak menerapkan hal itu kepada manusia Yesus! Kita memang tidak bisa memisahkan Yesus sebagai manusia dan Yesus sebagai Allah, tetapi kita bisa membedakannya.

b)   Kalau ayat ini mau diterapkan kepada diri dari Yesusnya, maka kita harus menerapkannya kepada Yesus sebagai Allah, bukan kepada Yesus sebagai manusia. Sebagai manusia Dia jelas berubah, baik fisikNya maupun pengetahuan / hikmatNya (Luk 2:40,52)!
Luk 2:40,52 - “(40) Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada padaNya. ... (52) Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmatNya dan besarNya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.”.

William Hendriksen (tentang Luk 2:40)By and large it resembled the development of any other normal child. This brings to mind Heb. 4:15, ‘one who has been in every respect tempted as we are.…’ ... The finite character of Christ’s human nature is sometimes denied. For example, when it is suggested that even when he was a man there were certain things which, according to his human nature, Jesus did not know, some devout believers are shocked. Are they forgetting such clear passages as Matt. 24:36; Mark 5:32; 11:13; Luke 8:45? The present passage too shows very clearly that according to his human nature there were certain things which the child Jesus did not know from the start. He had to learn them. He had to grow up, and this not only physically but also mentally, etc. In a sense did not the process of learning continue throughout his life? See Heb. 5:8. Those who deny this are in danger of acquiring the mentality that must have marked the authors of certain apocryphal writings. These picture Jesus as being, even according to his human nature, omniscient and almighty (or at least nearly so), and this from the very start. Lions and leopards worship him. The infant Jesus says to a palm, ‘Bend down and refresh my mother with your fruit,’ and it does so immediately. At five years of age Jesus models twelve sparrows out of soft clay. He claps his hands and the sparrows become alive and fly away, etc., etc. All this is clearly contrary to the pleasing reticence that marks Luke 2:40. [= Pada umumnya itu (perkembangan bayi Yesus) menyerupai perkembangan dari anak normal manapun. Ini mengingatkan pada Ibr 4:15, ‘seseorang yang telah dicobai dalam segala hal seperti kita ...’ ... Karakter yang terbatas dari hakekat manusia Kristus kadang-kadang disangkal. Sebagai contoh, pada waktu diusulkan / ditunjukkan bahwa bahkan pada waktu Ia adalah seorang manusia, ada hal-hal tertentu yang, sesuai dengan hakekat manusiaNya, yang Yesus tidak tahu, sebagian orang-orang percaya yang saleh kaget. Apakah mereka lupa text-text yang jelas seperti Mat 24:36; Mark 5:32; 11:13; Luk 8:45Text saat ini juga menunjukkan dengan jelas bahwa menurut hakekat manusiaNya ada hal-hal yang anak Yesus tidak tahu dari awal. Ia harus bertumbuh, dan ini bukan hanya secara fisik tetapi juga secara mental / pikiran, dsb. Dalam arti tertentu tidakkah proses belajar berlanjut sepanjang hidupNya? Lihat Ibr 5:8. Mereka yang menyangkal ini ada dalam bahaya mendapatkan mentalitas yang pasti telah menandai pengarang-pengarang dari tulisan-tulisan Apocrypha tertentu. Tulisan-tulisan ini menggambarkan Yesus, bahkan menurut hakekat manusiaNya, sebagai maha tahu dan maha kuasa (atau setidaknya hampir demikian), dan ini sejak permulaan yang paling awal. Singa-singa dan macan-macan tutul menyembahNya. Bayi Yesus berkata kepada sebuah pohon palm, ‘membungkuklah dan segarkan ibuKu dengan buahmu’, dan pohon itu segera melakukan demikian. Pada usia lima tahun Yesus membuat / membentuk 12 burung pipit dari tanah liat yang lembut. Ia bertepuk tangan dan burung-burung pipit itu menjadi hidup dan pergi terbang, dsb., dsb. Semua ini secara jelas bertentangan dengan sikap diam yang menyenangkan yang menandai Luk 2:40.].
Mat 24:36 - “Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri.’”.
Mark 5:32 - “Lalu Ia memandang sekelilingNya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu.”.
Mark 11:13 - “Dan dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau Ia mendapat apa-apa pada pohon itu. Tetapi waktu Ia tiba di situ, Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara.”.
Luk 8:45 - Lalu kata Yesus: ‘Siapa yang menjamah Aku?’ Dan karena tidak ada yang mengakuinya, berkatalah Petrus: ‘Guru, orang banyak mengerumuni dan mendesak Engkau.’”.
Ibr 5:8 - “Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah dideritaNya,”.

William Hendriksen (tentang Luk 2:40)Luke writes, ‘And the child continued to grow … being (or becoming) filled with wisdom.’ He uses the present tense of the participle, indicating that this development in wisdom was a gradual, day by day, process. What is meant by wisdom? That it includes knowledge is clear. But it far surpasses knowledge. It implies the ability and the desire to use this knowledge to the best advantage. (= Lukas menulis, ‘Dan Anak itu terus bertumbuh ... menjadi diisi / dipenuhi dengan hikmat’. Ia menggunakan tensa present dari participle, menunjukkan bahwa perkembangan dalam hikmat ini merupakan suatu proses bertahap, hari demi hari. Apa yang dimaksudkan dengan ‘hikmat’? Bahwa itu mencakup pengetahuan adalah jelas. Tetapi itu jauh melampaui pengetahuan. Itu secara tak langsung menunjuk pada kemampuan dan keinginan untuk menggunakan pengetahuan ini pada manfaat yang terbaik.).




-bersambung-




Catatan kaki :
(1) : Saya baru ditelpon oleh Pdt Ruslan, yg pernah menjabat ketua sinode GKA, dan yang sekarang ini adalah Ketua Departemen Theologia di GKA, dan ia menjelaskan bahwa kata-kata tentang 2 natur yang dari kekal sampai kekal itu memang salah, dan kesalahan itu SUDAH disadari sejak awal. Dalam Sidang Sinode, hal itu sudah dinyatakan sebagai salah, dan disetujui untuk diubah, dan sekarang hanya tinggal menunggu keputusan perubahannya secara resmi.

[https://ghm020220.blogspot.com/2012/12/manusia-yesus-tidak-kekal-1.html]BACA SELENGKAPNYA:
Manusia Yesus Tidak Kekal !!!


source : https://albertrumampuk.blogspot.com/search?q=MANUSIA+YESUS+TIDAK+KEKAL%21+%281%29