Friday, April 17, 2015

YESUS TURUN KE DALAM NERAKA: PEMBAHASAN KALIMAT TURUN KE DALAM KERAJAAN MAUT DALAM KREDO RASULI (I)

JESUS AND INTERMEDIATE STATE (I)



Dari KelahiranNya di Betlehem hingga KenaikanNya di Bukit Zaitun)
JESUS AND INTERMEDIATE STATE (I)
Samuel T. Gunawan, SE.,  M.Th 

(4:8) Itulah sebabnya kata nas: "Tatkala Ia naik ke tempat tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan; Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia." (4:9) Bukankah "Ia telah naik" berarti, bahwa Ia juga telah turun ke bagian bumi yang paling bawah? (4:10) Ia yang telah turun, Ia juga yang telah naik jauh lebih tinggi dari pada semua langit, untuk memenuhkan segala sesuatu. (Efesus 4:8-10).




PENDAHULUAN

Suatu ketika seorang pendeta (sekarang menjadi teman saya) yang melayani di salah satu gereja lokal GBI di Palangka Raya menyampaikan pertanyaan singkat melalui inbox di facebook saya. Teman saya ini bergelar master di bidang teologi dogmatika, lulusan dari salah satu STT yang cukup terkenal di Kalimantan. Karena itu dalam pemikiran saya pertanyaan yang disampaikan kepada saya tersebut bukan karena ia tidak tahu melainkan mungkin dalam rangka ‘penelitiannya’ tentang topik tertentu. Pertanyaan itu di sampaikan kepada saya dalam bahasa dayak ngaju, yang saya translite kira-kira demikian “Shalom pak, minta penjelasan secara Alkitabiah maksud dari “turun dalam kerajaan maut” (selama 3 hari), disaat bersamaan ketika Yesus memberitahu kepada orang yang disalibkan disebelah kanannya ‘hari ini juga engkau bersamaku di firdaus’, (Jadi ada dua tempat di waktu yang sama : firdaus dan turun dalam kerajaan maut). Memang saya sudah membaca beberapa artikel di internet, tetapi masih ragu”. 

Menanggapi pertanyaan dari teman saya tersebut di atas, pada saat itu saya memberikan penjelasan singkat dalam garis besar melalui pesan ke facebooknya tentang pandangan Alkitab dan teologi yang saya pegang sampai saat ini mengenai topik tersebut. Walaupun menurutnya informasi ringkas saya itu cukup, namun saya berjanji kepadanya bahwa suatu ketika saya akan memberikan artikel yang lebih luas lagi tentang topik tersebut. Namun,  pembahasan ini bukan hanya terinspirasi dari pertanyaan teman saya tersebut saja, alasan lainnya karena memang frase “turun ke dalam kerajaan maut” yang merupakan hasil revisi pengakuan Iman Rasuli di akhir abad ke IV tersebut, juga di muat dalam pengakuan Iman Sinode GBAP dimana saya ditahbiskan dan melayani sebagai pendeta. Karena itu perlu bagi saya menyampaikan dasar teologis dari ajaran tersebut.

Dalam ayat bacaan Efesus 4:8-10 di atas. Rasul Paulus menegaskan bahwa “Kristus telah naik “jauh lebih tinggi dari pada semua langit” (Efesus 4:10), Ia juga telah turun “ke bagian bumi yang paling bawah (Efesus 4:9)”. Namun, kalimat “Ia telah turun ke bagian bumi yang paling bawah” telah mendapat penafsiran yang berbeda-beda dari para penafsir Alkitab. Paling sedikit ada tiga pendapat penafsiran terhadap frase “eis ta katôtera merè tès gès (turun ke bagian bumi yang paling bawah)” dalam Efesus 4:9, yaitu : (1) Turunnya Kristus ke alam maut (syeôl atau hades). Pendapat ini dipegang oleh Bengel, Bleek, Bousset, Hofmann, Kahler, Klofer, Robinson, dan Wescott yang menghubungkannya dengan Mazmur 63:10; (2) Datangnya Kristus yang dimuliakan itu kepada milikNya. Abbot dan Von Soden yang berpegang pada pandangan ini mengartikan  kata “katabènai (turun)” dengan “datang” ke pada milikNya; (3) Datangnya Kristus ke dalam dunia, ketika Ia dilahirkan sebagai manusia dalam inkarnasinya. Pandangan ini dipegang oleh Bieder, Calvin, Haupt, Meinertz, Grosheide, Rendtorff, dan Percy Schilier.[1] Karena ayat Efesus 4:9-10 ini merupakan salah satu ayat yang penting sehubungan dengan kebenaran frase Kristus “turun ke dalam kerajaan maut”, maka ayat tersebut beserta dengan ayat-ayat pendukung lainnya akan saya lakukan eksegesis dan analisis teologis tersendiri di bagian akhir artikel ini. Dari ketiga pandangan tersebut, saya memilih berpegang pada pandangan pertama karena saya anggap lebih logis dan alkitabiah. Karena fakta bahwa Yesus turun ke tempat yang serendah-rendahnya dari bumi bukan saja mencakup diletakkkannya tubuh Yesus di dalam kubur Yusuf Arimatea, melainkan juga masuknya roh Kristus ke Hades.[2]

Mengenai Perbedaan-perbedaan penafsiran bahwa “Kristus telah turun ke bagian bumi yang paling bawah” dalam (Efesus 4:9) tersebut di atas juga berpengaruh pada pemahaman terhadap arti / makna dari frase “turun ke dalam kerajaan maut” dalam Pengakuan Iman Rasuli, yang  lengkapnya demikian, “Aku percaya kepada Allah Bapa yang Mahakuasa, khalik langit dan bumi. Dan kepada Yesus Kristus anakNya Yang Tunggal, Tuhan kita. Yang dikandung daripada Roh Kudus, lahir dari anak dara Maria. Yang menderita sengsara dibawah pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan mati dan dikuburkan, turun ke dalam kerajaan maut. Pada hari yang ketiga bangkit pula dari antara orang mati. Naik ke surga, duduk disebelah kanan Allah, Bapa yang Mahakuasa. Dan dari sana Ia akan datang untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati. Aku percaya kepada Roh Kudus, Gereja yang kudus dan am, persekutuan orang kudus, pengampunan dosa, kebangkitan daging, dan hidup yang kekal. Amin”. [3]

KREDO RASULI DAN BERBAGAI PANDANGAN TENTANG FRASE “YESUS TURUN KE DALAM KERAJAAN MAUT”

Istilah “pengakuan iman” berasal dari bahasa Latin “kredo” dan dalam bahasa Inggris disebut “creed” yang berarti “aku percaya”. Dalam bahasa Yunani adalah “symbolum” yang berarti “simbol atau tanda”. Kata ini dipakai oleh orang Kristen untuk menyatakan kesamaan kepercayaan, sekaligus sebagai garis pembatas antara kebenaran dan bidat.[4] Di dalam sejarah Gereja orang yang pertama memakai istilah ini adalah Cypriaan (200-258 M), kemudian diikuti oleh Arthanasius (296-378 M). [5]    Kredo adalah pernyataan yang meringkaskan iman yang dipelajari dan dipercayai dalam Kekristenan. Pengakuan-pengakuan itu memberikan fondasi yang dapat digunakan dalam penjelasan iman Kristen. Pengakuan iman itu juga dapat dipakai untuk menilai pandangan-pandangan ekstrim (sesat) pada masa itu. Namun, karena merupakan suatu pernyataan ringkas, maka kredo-kredo itu tidak memberikan keterangan yang cukup jelas tentang ajaran yang disebutkan di dalamnya dan tidak bisa mengakomodir seluruh doktrin dalam Alkitab yang dipercayai. Jadi, kredo itu penting, namun tidak dapat dijadikan sebagai sumber akhir dan penentu kebenaran Kristen. Kredo bisa saja salah, karena itu memerlukan revisi (perbaikan) secara berkala, dan harus selalu patuh pada otoritas Alkitab.[6] Kredo harus diuji berdasarkan kebenaran Alkitab. Demikian juga halnya dengan frase “turun ke dalam kerajan maut” dalam dari Pengakuan Iman Rasuli yang telah menimbulkan banyak perdebatan tersebut, perlu diuji berdasarkan kebenaran-kebenaran ayat-ayat Alkitab.

Seharusnya setiap orang Kristen berani mengambil sikap tegas menguji setiap bentuk ajaran dan perilaku, apalagi menyangkut ajaran iman atau perilaku yang meragukan namun diklaim benar. Rasa takut untuk menguji segala sesuatu tidaklah menunjukkan spiritualitas yang tinggi, tetapi justru menunjukkan kelemahan. Mereka yang menolak menguji segala sesuatu akan mudah tertipu, dan mudah tertipu tidaklah sama dengan spiritualitas (kerohanian). Seseorang dapat berdosa tidak hanya karena menolak kebenaran sejati, tetapi juga karena menerima yang palsu.[7] Karena itu, perlu untuk menguji dengan teliti, tanpa suatu prasangka sebelum terbukti. Teliti bukan sekedar melihat, melainkan melihat dan mengamati dengan cermat. Perhatikanlah nasihat rasul Paulus, “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik”  (1 Tesalonika 5:21). Namun, orang Kristen dituntut bukan hanya menguji, melainkan memegang apa yang baik, berupa ajaran atau perilaku. Bertindak berdasarkan hasil pengujian merupakan kewajiban bagi semua orang Kristen. Perhatikanlah nasihat rasul Paulus, “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik” (1 Tesalonika 5:21). Charles C. Ryrie mengatakan, “Setiap orang Kristen berhak atas keyakinan-keyakinannya mengenai kebenaran alkitabiah. Akan tetapi, sepanjang masih berada dalam tubuh duniawi, tak seorang pun dari kita luput dari kesalahan. Tidak seorang pun pada usia berapa pun mampu menguasai seluruh kebenaran... Bagaimana pun juga, kita seharusnya berpegang dengan yakin akan kebenaran tersebut sebab kita percaya Tuhan telah memberi kita pemahaman tentang itu”.[8]

Kembali kepada  frase “turun ke dalam kerajaan maut” dari Pengakuan Iman Rasuli tersebut, kata aslinya dalam bahasa Latin adalah “discendit ad inferna” yang dapat diterjemahkan dengan “turun ke neraka” atau “turun ke alam maut”.[9] Diantara orang-orang Yunani kata “inferna” ada yang menerjemahkannya sebagai kerajaan maut”, tetapi ada juga yang menerjemahkannya sebagai “bagian yang lebih rendah”.[10] Frase tersebut tidak terdapat di dalam naskah Pengakuan Iman Rasuli yang paling awal.[11]  Frase tersebut pertama kali dipergunakan dalam Pengakuan Iman Aquilaia pada abad ke IV, kira-kira tahun 390 M.[12] Menurut pendapat Rifinus yang meninggal pada tahun 410 M, Pengakuan iman Roma Katolik menambahkan kata “turun ke dalam kerajaan maut” setelah menyebutkan tentang penguburan Kristus.[13] Masih menurut Rifinus, bahwa kata-kata “turun ke neraka” atau “turun ke alam maut” ini sama artinya dengan ucapan yang mendahuluinya, yaitu “dikuburkan”, sehingga kata ini hanya mewujudkan suatu keterangan lebih lanjut dari kata “dikuburkan”.[14] Namun, dikemudian hari, banyak para ahli Alkitab dan teologi yang menganggap bahwa frase “turun ke kerajaan maut” berbeda pengertiannya dengan “turun ke dalam neraka”. Pandangan ini menganggap bahwa istilah kerajaan maut sama dengan sheol atau hades” merupakan tempat dunia orang mati yang menanti sampai hari kebangkitan kelak dan penghakiman terakhir, sedangkan istilah neraka (gehenna) merupakan istilah yang merujuk kepada tempat penghukuman kekal (permanen).[15]

Louis Berkhof menyebutkan empat pandangan  (penafsiran) yang berbeda dari frase Yesus “turun ke dalam kerajaan maut”, yaitu : (1) Gereja Katholik menganggap bahwa hal itu berarti setelah Kristus mati Ia pergi ke "Limbus Patrum" di mana orang-orang kudus Perjanjian Lama menantikan wahyu dan penerapan penebusanNya, memberitakan Injil kepada mereka dan membawa mereka ke surga; (2) Gereja Lutheran menganggap bahwa Kristus yang dimuliakan. Kristus turun ke bumi paling bawah untuk mengungkapkan dan mencapai penggenapan kemenanganNya atas Iblis dan kuasa kegelapan, dan mengumumkan hukuman bagi mereka. Sebagian kaum Lutheran menempatkan perjalanan kemenangan ini antara kematian Kristus dan kebangkitanNya; sekelompok lain mengatakan hal ini terjadi setelah kebangkitan; (3) Gereja di Inggris percaya bahwa kendatipun tubuh Kristus berada dalam kuburan, jiwaNya pergi ke dalam kerajaan maut, khususnya ke Firdaus, tempat tinggal jiwa-jiwa orang benar, dan memberikan kepada mereka ungkapan kebenaran yang lebih penuh; (4) Calvin menafsirkannya secara metafora, menunjukkan penderitaan akhir Kristus di atas kayu salib, di mana Ia sungguh-sungguh merasakan rasa sakit dari hempasan neraka. Katekismus Heidelberg juga berpendapat demikian. Menurut pendapat kalangan Reformed yang biasa, kalimat itu bukan saja menunjuk pada penderitaan di atas salib, tetapi juga penderitaan di taman Getsemani.[16]  

Jika diperhatikan dari keempat pandangan di atas, maka pandangan namor (1), (2), dan (3) mengakui secara harafiah bahwa Yesus turun ke dalam kerajaan maut, sedangkan pandangan (4) tidak mengakui frase tersebut secara harafiah. Berkhof sendiri kelihatannya memegang pandangan ke (4) dari Calvin di atas ketika ia mengatakan, “Alkitab sama sekali tidak pernah mengajarkan tentang Kristus yang secara harafiah turun ke dalam neraka”.[17]  Namun menurut saya, dari keempat pandangan itu, yang paling mendekati pandangan Alkitab adalah pandangan Lutheran dan Anglikan, yang menganggap bahwa turunnya Yesus ke dalam kerajaan maut itu sebagai tahap awal dari pemuliaan Kristus, karena masa kehinaan Kristus berakhir ketika Ia mati di kayu salib. Ketika disalib sebelum mati Yesus berkata “sudah selesai” (Yohanes 19:30).  Kata “sudah selesai” adalah kata Yunani “τετελεσται – tetelestai” ini berasal dari kata kerja τελεω – teleô, artinya "mencapai tujuan akhir, menyelesaikan, menjadi sempurna”. Kata ini menyatakan keberhasilan akhir dari sebuah tindakan. Paul Enns menyatakan, “Karya Kristus sesuai dengan tujuanNya datang ke dunia, digenapkan dalam Yohanes  19:30. Setelah enam jam di atas kayu salib Yesus berseru ‘sudah selesai!’ (Yunani: Tetelestai). Yesus tidak mengatakan ‘saya telah selesai!’, tetapi ‘sudah selesai!’. Ia telah menyelesaikan pekerjaan yang diberikan Bapa kepadaNya; karya keselamatan telah diselesaikan.  Tensa bentuk lampau darai kata kerja ‘tetelestai’ dapat diterjemahkan ‘hal itu akan tetap selesai’, artinya pekerjaan itu untuk selamanya selesai dan akibat dari selesainya pekerjaan itu terus berlaku”.[18] Ada yang berpendapat bahwa maksud “sudah selesai” disini adalah penyelesaian misi penebusannya, bukan akhir dari penderitaannya, tetapi saya memahami kata “sudah selesai” ini bukan hanya dalam pengertian selesainya misi penebusan, melainkan mencakup juga akhir dari penderitaanNya baik secara fisik maupun mental. Namun, tahap dari perendahanNya hanya benar-benar berakhir ketika tubuhNya dikuburkan di liang kubur. Setelah itu, dimulailah tahap pemuliaanNya, yaitu turunNya Kristus ke dalam kerajaan maut. French L. Arringten menyebutkan beberapa tahap dari pemuliaan Kristus, dan menegaskan bahwa turunnya Yesus ke kerajaan maut sebagai pemenang, merupakan tahap pertama dari pemuliaanNya.[19]   

Selain keempat pandangan tersebut ada juga pandangan lainnya yang mirip dengan pandangan Lutheran yaitu Pandangan Pentakostal dan Pandangan Dispensasional. (5) Pandangan Pentakostal, sebagaimana yang dinyatakan oleh French L. Arringten seorang teolog Pentakostal mengatakan, “Alkitab mengajarkan bahwa antara kematian dan kebangkitanNya, Yesus pergi ke kerajaan maut... Dalam kuasa Roh Kudus, Kristus pergi ke kerajaan maut sebagai pemenang, bukan sebagai korban. Sebagai pemenang Ia menegaskan ketuhananNya dan kuasaNya di kerajaan maut. Kristus adalah pemenang, bahkan dilingkungan orang-orang mati. Dari tempat itu Ia muncul sebagai Kristus yang menang, yang mengingatkan semua orang bahwa ketuhanannya mencapai seluruh wilayah”.[20]  (6) Pandangan Dispensasional mengakui bahwa Yesus pergi ke kerajaan maut (sheol / hades). Pandangan ini mengajarkan bahwa sheol atau hades terbagi dalam dua bagian yaitu firdaus (Pangkuan Abraham) bagi orang-orang percaya dan suatu bagian lain tempat penghukuman bagi orang-orang tidak percaya yang meninggal. Pada waktu kebangkitanNya, Kristus membawa orang-orang percaya ke surga. Pandangan ini membedakan kerajaan maut (sheol/hades) dari neraka (gehenna).[21]

Catatan:  Jika kita meneliti karya Kristus secara mendalam, maka karya tersebut dilaksanakan dalam dua keadaan, yaitu perendahan dan pemuliaan dengan masing-masing berbagai tahapannya. (a) Keadaan perendahan Kristus terdiri dari empat tahap, yaitu : (1) inkarnasiNya; (2) penderitaanNya; (3) kematianNya; dan (4) penguburanNya. (b) keadaan pemuliaan Kristus terdiri dari empat tahap, yaitu : (1) turunNya ke dalam kerajaan maut (hades); (2) kebangkitanNya dari kematian; (3) KenaikanNya ke surga dan dudukNya disebelah kanan Allah Bapa; serta (4) KedatanganNya kembali ke bumi dengan segala kekuasaan dan kemuliaanNya.

PEMIKIRAN DAN BERBAGAI PERTIMBANGAN DARI AYAT-AYAT ALKITAB

Sebelum menentukan apakah frase “turun ke dalam kerajaan maut”, benar-benar dimaksudkan dialami oleh Yesus secara harafiah ataukah hanya sekedar metaforikal, maka perlu disajikan pemikiran dan berbagai pertimbangan berikut ini :

1. Kematian jasmani bukanlah akhir dari kehidupan. Istilah “intermediate state” berarti “masa antara”, menurut Anthony Hoekema adalah “suatu kondisi orang mati di antara saat kematiannya dan kebangkitannya pada akhir zaman”.[22] Menurut Alkitab kematian adalah perpisahan antara tubuh dan roh/jiwa, atau keadaan tubuh yang tidak memiliki roh (Bandingkan Yakobus 2:26). Tubuh bersifat sementara atau fana (Roma 6:12; 2 Korintus 4:11), sedangkan jiwa atau roh itu kekal (Matius 10:28). Karena itu kematian bukan merupakan akhir dari kehidupan manusia. Ketika manusia mati, tubuh jasmaniahnyalah yang berakhir atau kembali menjadi debu (Pengkhotbah 3:19-20;  12:7), sedangkan jiwanya atau rohnya (bagian non materi) tetap hidup sampai selama-lamanya (Lukas 16:22-23).[23] Jadi, tidak ada ayat atau pun petunjuk di dalam Alkitab yang menyatakan bahwa sesudah mati bagian non materi (roh dan jiwa) manusia akan lenyap bersama dengan pemakamannya. Sebaliknya, ada bukti dari berbagai ayat dalam Alkitab bahwa bagian non materi dari manusia itu akan tetap hidup.

Evaluasi : Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, kita menolak teori Anihilisme karena tidak sesuai dengan Alkitab. Teori anihilisme yang mengajarkan bahwa mati adalah hidup yang berhenti dan menuju kenihilan atau kekosongan atau kelenyapan. Menjadi nol atau habis ibarat binatang yang mati. Menurut E.W. Bulingger yang berpegang pada pandangan ini, “Ketika manusia menghembuskan nafas yang terakhirnya dan meninggal, jiwa itupun lenyap atau menjadi tidak ada”.[24]  Pandangan ini juga dipegang oleh Charles T. Russel dan merupakan salah satu ajaran dari Rusellisme serta Saksi-Saksi Yehowa.

2. Setelah manusia mati tubuhnya kembali menjadi tanah, sedangkan roh atau jiwanya kembali kepada Allah. Menurut kitab Pengkhotbah  3:19-20, setelah manusia mati maka tubuhnya akan kembali menjadi tanah. Dikatakan, “karena nasib manusia adalah sama dengan nasib binatang, nasib yang sama menimpa mereka; sebagaimana yang satu mati, demikian juga yang lain (Pengkhotbah 3:19a)... Kedua-duanya menuju satu tempat; kedua-duanya terjadi dari debu dan kedua-duanya kembali kepada debu (Pengkhotbah 3:20)”. Disini Pengkhotbah menegaskan bahwa nasib tubuh manusia dan bintang setelah matinya sama saja, yaitu akan kembali kepada tanah dari mana ia diambil. Di dalam tanah tubuh itu akan mengalami kerusakan / pembusukan dan kembali kepada unsur-unsur tanah yang semula. Ini sesuai dengan firman Tuhan kepada Adam, “dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu" Kejadian 3:19). Tetapi menurut kitab Pengkhotbah, persamaan itu tidak berlaku dengan bagian non materi. Roh manusia, yaitu bagian yang tidak kelihatan (non materi) dari manusia “naik ke atas” sedangkan hewan tidak demikian (Pengkhotbah 3:21).

Sementara tubuh kembali menjadi tanah, maka roh manusia yang naik ke atas itu “kembali kepada Allah yang mengaruniakannya” (Pengkhotbah 12:7). Ini cocok dengan Kejadian 2:7 yang menyatakan, “ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup”. Jadi, pada saat manusia mati, maka tubuhnya kembali kepada debu tanah, sedangkan rohnya kembali kepada Allah Penciptanya. Hal ini berlaku bagi semua manusia. Roh manusia yang menghadap Allah seketika setelah ia mati itu bukan untuk menghadapi penghakiman yang terakhir sebab penghakiman yang terakhir baru akan terjadi sesudah kebangkitan orang mati. Derek Prince menyatakan bahwa tujuan roh manusia kembali kepada Allah setelah kematiannya adalah untuk mendengar keputusan Allah yang menetapkan ditempat yang mana roh yang bersangkutan harus menunggu sampai saat dilakukannya kebangkitan orang mati dan penghakiman yang terakhir di akhir zaman nanti. Setiap roh manusia akan di taruh ditempat dan dalam keadaan yang sudah ditentukan, dan akan tetap berada disana sampai ia dipanggil pada saat kebangkitan tubuh jasmaninya kelak.[25] Selama berada tempat yang ditentukan itu, jiwa-jiwa itu dalam keadan sadar. Hal ini sangat jelas dinyatakan dalam Alkitab (Yesaya 14:9-11; 15-17; Matius 22:31-32; Lukas 16:19-31). Dari ayat-ayat tersebut kita melihat bahwa ditempat masa antara (intermediate state) yang telah ditentukan tersebut jiwa-jiwa itu hidup, masih bisa berpikir, mengingat dan merasa.[26] Pada masa antara itu, yaitu saat kematian dan kebangkitan, mereka berada dalam keadaan sadar tetapi dalam keadaan tidak bertubuh (jasmani).[27]

Evaluasi : Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, kita menolak teori “Jiwa Yang Tertidur” karena tidak sesuai dengan Alkitab. Teori jiwa yang tertidur menyatakan bahwa di antara kematian dan kebangkitan jiwa berada dalam keadaan tidak sadar. Menurut Millard J. Erikckson, “Di abad ke 16 banyak anggota golongan Anabaptis dan golongan Sosianisme rupanya menganut anggapan bahwa pada saat itu jiwa orang mati dalam keadaan tertidur tanpa mimpi”.[28] Pandangan jiwa yang tertidur ini juga dipegang oleh golongan Advent Hari Ketujuh, yang mengajarkan bahwa “keadaan manusia setelah kematiannya adalah keadaan tidak sadar (dan bahwa)  semua orang, baik maupun jahat, tetap tinggal di dalam kubur sejak kematian (jasmaniahnya) hingga kebangkitan”. [29]

3.       Tempat penantian sementara (Intermediate state) itu disebut sebagai “tempat dunia orang mati”, yaitu sheol atau hades.  Istilah sheol dalam Perjanjian Lama sama dengan hades dalam Perjanjian Baru.  Henry C. Thiessen mengatakan, “Kedua kata ini, sheol dalam Perjanjian Lama dan Hades dalam Perjanjian Baru, diakui oleh semua sarjana sebagai kata-kata yang sama tepat artinya”.[30] The MacArthur Bible Commentary mengatakan, “Hades... Perjanjian Barunya sama dengan Perjanjian Lama, yaitu dunia orang mati atau Sheol. Meskipun kadang disebut neraka (Matius 11:23), disini mengacu pada tempat orang mati”.[31]  The Moody Handbook of Theology menyebutkan, “Istilah Perjanjian Baru yang digunakan untuk menjelaskan kehidupan setelah kematian adalah hades dan ekuivalen dengan istilah Ibrani sheol. Di Septuaginta, terjemahan Yunani dari Perjanjian Lama, kata sheol hampir selalu diterjemahan dengan hades. Hades asal mulanya adalah kata ganti kepunyaan, nama dari Allah dunia bawah yang memerintah atas orang mati”[32] Tim LaHaye menjelaskan bahwa “Perjanjian Lama menyebutkan dunia orang mati sebagai “sheol” sebanyak 65 kali”.[33]  Kata ini diterjemahkan sebagai 'kubur”, “neraka”, atau “kematian”.[34] Perjanjian Baru  menyebutkan dunia orang mati sebagai “hades” sebanyak 42 kali.[35] Anthony Hoekema mengatakan, “Berangkat dari fakta bahwa kata ini tidak memiliki pengertian yang tetap, maka Louis Berkhof mengusulkan tiga macam arti kata sheol: wilayah kematian, kubur, dan neraka. Namun demikian, diantara ketiga arti tersebut pengertian yang paling lemah adalah neraka; sedang sheol sebagai wilayah kematian atau kubur dapat dibuktikan secara Alkitabiah”.[36] Charles F. Beker mengatakan demikian, “Sheol Perjanjian Lama sama dengan hades Perjanjian Baru. Sheol telah diterjemahkan dunia orang mati (misalnya Kejadian 44:31). Sedangkan hades diterjemahkan alam maut (misalnya Matius 16:18), dunia orang mati (misalnya Matius 11:23), maut (misalnya 1 Korintus 15:55), dan kerajaan maut (misalnya Wahyu 20:13). Laird Harris mengajarkan bahwa “sheol adalah tempat orang mati yang berada di bagian bumi yang paling bawah.”[37] Grent R. Jefrfey menyatakan, “Perjanjian Lama berbicara tentang hades sebagai tempat peristirahatan jiwa sementara secara langsung setelah kematian dan kubur menjadi tempat dari tubuh yang telah mati”.[38]

4. Sebelum peristiwa kebangkitan Kristus, baik orang fasik (jahat) maupun orang benar (saleh) digambarkan sebagai turun ke sheol atau hades ini.  Henry C. Thiessen mengatakan “Perjanjian Lama mengajarkan bahwa kehidupan setelah kematian itu ada. Dikatakan bahwa semua orang akan turun ke sheol, dunia orang mati (hades dalam Perjanjian Baru). Orang fasik, tentu saja pergi ke situ (Mazmur 9:18; 31:18; 49;15; Yesaya 5:14). Di katakan bahwa Korah, Datan, dan Abiram telah hidup-hidup ke sheol (Bilangan 16:33). Akan tetapi, orang-orang yang benar juga pergi ke situ (Ayub 14:13; 17:16; Mazmur 6:6; 16:10; 88:4). Yakub menantikan saatnya dia bisa pergi ke anaknya Yusuf di Sheol (Kejadian 37:35; bandingkan Kejadian 42:38; 44:29). Raja Hizkia memandang kematian sebagai memasuki ‘pintu gerbang dunia orang mati (sheol)’ (Yesaya 38:10). Pikiran pergi ke sheol nampaknya juga di dalam ungkapan yang sering dipakai, yaitu ‘dikumpulkan kepada kaum leluhurnya’ (kejadian 25:8,17; 35:29; 49:33; Bilangan 20:24; 27:13; Ulangan 32:50; Hakim-hakim 2:10”.[39] Welly Pendansolang menyatakan pendapat yang sama dengan Henry C. Thiessen ketika ia menyatakan bahwa semua orang mati di zaman Perjanjian Lama baik orang yang percaya maupun orang fasik yang tidak percaya akan masuk atau turun ke sheol.[40]  Di Dalam Perjanjian Baru, orang kaya dan lazarus dalam perumpamaan yang disampaikan Tuhan Yesus, dikatakan pergi ke hades, Orang kaya itu ke tempat siksaan sedangkan Lazarus ke pangkuan Abraham. Kedua tempat ini dipisahkan oleh sebuah “jurang yang dalam dan tak terseberangi” (Lukas 16:19-31).

Catatan : Namun sebelum lebih jauh menarik pengertian doktrinal dari perumpamaan Yesus dalam Lukas 16:19-31 ini, maka ada beberapa hal yang perlu ditegaskan, yaitu : (1) Perumpamaan ini disampaikan oleh Kristus sebelum penyaliban, kematian, penguburan dan kebangkitanNya. R.A Jaffary mengatakan, “Pada waktu perumpamaan ini diajarkan, zaman Perjanjian Lama belum habis. Itulah sebabnya Tuhan masih berbicara tentang hades dan firdaus atau pangkuan Abraham. Janganlah lupa bahwa Tuhan Yesus sendiri lahir di bawah hukum Taurat, terhisap kepada kaum Perjanjian Lama, dan memelihara undang-undang Taurat itu. Sebelum kesengsaraan, kematian dan kebangkitanNya bahkan kenaikanNya ke surga, zaman Perjanjian Baru itu belum mulai karena pekerjaan-pekerjaan yang penting pada zaman itu belum selesai dan keempat Injil belum lahir. Masa itu dapat kita namakan masa peralihan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.”[41] Penekanan point ini penting  karena berhubungan dengan penafsiran tempat firdaus sebelum dan sesudah kebangkitan Kristus itu berbeda. (2) Perumpamaan Tuhan Yesus ini bukan berisi cerita imajinasi atau mitos, tetapi benar-benar terjadi. Perumpamaan ini adalah satu-satunya dimana Yesus menyebutkan nama orang (Lazarus dan Abraham) dan orang-orang yang disebutkan dalam kisah itu (Abraham, Lazarus, dan orang kaya) adalah orang-orang yang benar-benar pernah ada dan hidup di bumi (Ayat 19,20,23). Simon J. Kistemaker mengatakan, “Yesus menceritakan kisah yang hidup tentang orang kaya dan orang miskin”.[42] Derek Prince mengatakan, “Tidak ada petunjuk di dalam ayat itu bahwa kisah ini sekedar merupakan suatu perumpamaan belaka. Pada saat tersebut dalam pelayanan Yesus di bumi, Ia menceritakannya sebagai suatu peristiwa yang telah benar-benar terjadi beberapa waktu sebelumnya”.[43] Marshall I. Howard mengakui, “walaupun bahasanya (misalnya : Pangkuan Abraham) tentu adalah perlambang, namun perumpamaan berbicara tentang nasib yang sesungguhnya bagi manusia”.[44] R.A Jeffray mengatakan, “Jika kita menyelidiki baik-baik maksud kata-kata Tuhan dalam ayat-ayat ini, tanpa ragu-ragu lagi kita mengakui bahwa yang diceritakan ini bukanlah suatu perumpamaan, melainkan peristiwa yang sungguh-sungguh telah terjadi. Bagaimana kita dapat menyatakan demikian? Biasanya pada setiap serita perumpamaa, pengarang tidak lupa menulis ‘ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka’, tetapi serita ini tidak demikian.”[45] (3) Perumpamaan ini tidak sedang menggambarkan kondisi yang terjadi sesudah kebangkitan tubuh di akhir zaman, melainkan kondisi yang terjadi setelah kematian baik Lazarus maupun orang kaya. Anthony Hoekema mengatakan, “Dalam ayat 27-28, si orang kaya mengingat kelima saudaranya yang masih hidup di bumi, gambaran semacam ini tidak akan mungkin terjadi seandainya kebangkitan akhir telah berlangsung”.[46]

Berdasarkan penjelasan pada catatan (1), (2), dan (3) di atas, maka lebih lanjut, melalui perumpamaan ini kita dapat menarik pengertian doktrinal, bahwa perumpamaan ini memberikan makna yang aktual antara kondisi orang benar dan orang fasik setelah kematian, yaitu : (1) Pada waktu seseorang meninggal, maka ia segera menuju dunia orang mati (ayat 22,23), yaitu masa antara (intermediate state).  Anthony Hoekema mengatakan “Kita menyimpulkan bahwa baik penderitaan yang dikaitkan dengan hades, maupun sukacita yang dikaitkan dengan pangkuan Abraham, sebagaimana yang dilukiskan oleh perumpamaan ini, semuanya adalah kondisi yang terjadi di dalam masa antara”.[47] (2) Ditempat masa antara tersebut jiwa-jiwa itu hidup, mereka masih bisa berpikir, melihat, berbicara, mengingat dan merasa seperti yang diungkapkan dalam ayat 23-31. Derek Prince mengatakan, “Di dalam keberadaan sesudah mati ini, masih ada kepribadian yang sama, orang-orang masih saling mengenali dan ada kesadaran mengenai keadaan yang dialami, mereka masih mengingat kehidupan lama mereka di bumi ini”. Henry C. Thiessen mengatakan, “... dalam kisah orang kaya dan Lazarus... Orang kaya dan Lazarus dapat berbicara, berpikir, mengingat, merasa, dan mempedulikan orang lain”.[48] (3). Ditempat masa antara itu keadaan yang dialami orang kaya dan lazarus itu menggambarkan keadaan yang akan dialami orang-orang yang telah masuk ke dalamnya. Keadaan yang dialami orang kaya di tempat yang disebut dengan “tempat penderitaan (ayat 28) itu, dimana ia menderita sengsara (ayat 23) dan sangat kesakitan dalam nyala api (ayat 24), menggambarkan keadaan orang-orang fasik yang akan menderita sengsara di alam maut. Disini tempat penghukuman ini, tidak ada belas kasihan tidak ada kesempatan kedua untuk bertobat, tidak ada permohonan yang dikabulkan, tidak ada pengampunan dan tidak ada anuegerah, dan hanya ada seruan penderitaan dan keputusasaan.  Bagi orang fasik, keadaan ini tidak akan berubah bahkan hingga pada hari penghakiman terakhir Allah di Tahta Putih (Wahyu 20:11-13), justru mereka dilemparkan ke neraka (gehena) yaitu lautan api. Inilah kematian yang kedua: penghukuman akhir dan permanen. Sedangkan keadaan yang dialami oleh Lazarus, digambarkan dibawa oleh malaikat-malaikat kepangkuan Abraham (ayat 22) dan mendapat hiburan (ayat 25), menggambarkan keaadaan orang-orang benar yang berbahagia ditempat yang damai, tanpa keluhan, dan tanpa penderitaan sedikitpun. Keadaan didalam pengkuan Abraham (firdaus) ini akan terus berlanjut bahkan ketika Kristus telah memindahkan posisi firdaus ini dari hades (sheol) ke surga pada saat kebangkitanNya dari kematian.

Menafsirkan Lukas 16:19-31, Henry C. Thiessen mengatakan, “Secara tidak langsung, Perjanjian Baru nampaknya mengajarkan adanya dua ruangan di hades, satu ruangan untuk orang-orang benar dan satu ruangan untuk orang-orang fasik. Ruangan untuk orang benar dinamakan firdaus; sedangkan ruangan untuk orang-orang fasik tidak bernama, tetapi digambarkan  sebagai tempat penyiksaan”.[49] Charles F. Beker juga menjelaskan bahwa sheol atau hades ini terbagi dalam dua bagian, yaitu (1) firdaus atau pangkuan Abraham; dan (2) suatu bagian lain untuk orang-orang tidak percaya yang meninggal.  Grent R. Jeffrey menyebutkan, “salah satu sisi hades adalah pangkuan Abraham, dimana menampung jiwa-jiwa yang kudus yang telah mati dengan iman pada Allah selama masa Perjanjian Lama sampai kebangkitan Kristus (Lukas 16:23).”[50]  Hal yang sama juga dinyatakan oleh H.L. Willmington, “Pada hakikatnya hades terbagi atas dua bagian. Satu bagian untuk orang-orang yang diselamatkan dan satunya lagi untuk orang-orang yang terhilang. Bagian yang satu untuk orang-orang yang diselamatkan kadang-kadang disebut firdaus dan kali lain disebut sebagai pangkuan Abraham”.[51]  Gleason L. Archer juga mengakui bahwa pangkuan Abraham atau firdaus itu bukan menunjuk kepada surga. Malaikat itu tidak membawa Lazarus ke surga sesudah kematiannya, melainkan kesalah satu bagian dari hades atau sheol, yakni tempat orang-orang mati yang telah ditebus, dipangkuan Abraham untuk menanti saat kebangkitan mereka.[52]  Hal yang sama juga diungkapkan oleh Bill Wiese bahwa “tempat penyiksaan sekarang ini disebut sheol dalam bahasa Ibrani dan hades dalam bahasa Yunaninya. Banyak ahli Alkitab percaya bahwa sheol (hades) memiliki dua sisi. Sisi pertama adalah sisi penyiksaan, yang disebut hades, dan sisi yang lainnya adalah firdaus. Mereka dipisahkan oleh jurang yang tak terseberangi (Lukas 16:26)”.[53]

Evaluasi : Berdasarkan apa yang dijelaskan di atas, maka kita menolak adanya teori atau ajaran yang menyatakan adanya tempat-tempat seperti purgatori, limbus patrum, dan limbus infatrum di hades  (sheol) tersebut. Karena Alkitab menyebut hanya ada 2 (dua) ruangan di hades (sheol) yaitu : satu ruangan untuk orang-orang benar, dan satu ruangan lagi untuk orang-orang fasik. Ruangan untuk orang benar dinamakan firdaus; sedangkan ruangan untuk orang-orang fasik tidak bernama, tetapi digambarkan  sebagai tempat penyiksaan. Firdaus berada pada posisi di atas, sedang tempat penyiksaan berada pada posisi di bawah. Kedua ruangan ini dipisahkankan oleh jurang yang dalam dan tak terseberangi. Namun seperti yang dikatakan oleh Charles F. Beker, khusus dalam teologi Roma Katolik dikenal dengan istilah-istilah seperti : purgatori, limbus patrum, dan limbus infatrum.[54] Istilah-istilah tersebut tidak dikenali oleh Alkitab, dan pengajarannya terutama didasarkan pada  tradisi lisan dan kitab Apokrifa 2 Makabe 12:43. Kata “limbus” atau “limbo” berarti “tepi”,  dan menggambarkan tempat ditepi atau dibatas neraka. Menurut teologi Roma Katolik, bahwa : (1) para leluhur pergi ke limbus patrum menunggu kedatangan Mesias menebus mereka; (2) semua bayi yang meninggal tanpa dibaptis pergi ke limbus infatrum, karena bayi yang meninggal namun tidak dibaptis tidak akan selamat, tetapi karena mereka tidak memiliki dosa dari diri meeka sendiri maka mereka dibebaskan dari apai neraka; (3) jiwa yang menyesal yang melalui periode penderitaan disucikan dari dosa-dosa ringan yang dapat diampuni sebelum manusia dapat diterima dihadirat Allah. Tempat ini disebut purgatori, dalam bahasa Latinya “purgatorum” yang berarti “api penyucian”.[55]

5. Setelah kebangkitan Kristus, lokasi Pangkuan Abraham (Firdaus) telah dipindahkan dari hades (sheol) ke Surga. Setelah kebangkitan Kristus nampaknya telah terjadi sedikit perubahan kedaan di sheol (hades). Bill Wiese menyatakan, “Sebelum kenaikan Tuhan Yesus, hades juga meliputi dua sisi, menurut Vine’s Ekspositiry Dictionary. Setelah kenaikan, sheol (hades) sekarang hanya merupakan tempat penyiksaan. Firdaus dipercaya telah dipindahkan ketika Yesus turun selama tiga hari ke pusat bumi dan kemudian bangkita dan membawa orang-orang kudus bersamaNya”. [56] Jadi sejak saat itu Alkitab menggambarkan orang-orang percaya yang mati langsung menghadap ke hadirat Kristus (Bandingkan 2 Korintus 5:6-9; Filipi 1:23; Wahyu 6:9-11). Mereka akan di bawa ke Firdaus yang kini berada di atas (2 Korintus 12:2-4). Sedangkan orang-orang yang tidak percaya kepada Kristus ketika mati akan langsung pergi hades untuk disiksa. Pendapat yang sama disampaikan oleh Henry C, Thiessen yang mengatakan demikian, “Ada kemungkinan bahwa ketika Kristus bangkit, Ia tidak hanya membawa bersama Dia buah sulung manusia yang dibangkitkanNya secara jasmani (Matius 27:52,53), namun juga jiwa semua orang benar yang berada di hades. Kini semua orang percaya menghadap ke hadirat Kristus waktu meninggal dunia, sedangkan orang-orang yang tidak percaya tetap pergi ke hades seperti dalam zaman Perjanjian Lama”.[57] 

Tim LaHaye menyatakan hal yang sama dengan pendapat-pendapat di atas ketika ia mengatakan, “Satu diantara banyak perubahan  luar biasa yang dibawa oleh kematian, penguburan, dan kebangkitan Yesus Kristus adalah karena orang percaya tidak harus pergi ke sheol (hades)... Akibatnya, ketika orang percaya saat ini (orang-orang Kristen pada zaman gereja) mati, ia tidak masuk sheol (hades), tetapi jiwanya segera masuk ke surga untuk bersama-sama dengan JuruselamatNya, Yesus Kristus”.[58] Jadi bagi orang percaya dalam Kristus, jelaslah bahwa ketika ia mati, tubuhnya dikuburkan, namun jiwa dan rohnya segera naik ke firdaus (bagian dari surga) untuk bersama dengan Kristus sambil menunggu kebangkitan tubuh.[59]

Mengenai berpindahnya lokasi firdaus tersebut Gleason L. Archer menjelaskan demikian, “Rupanya Firdaus tidak diangkat ke surga sampai hari Paskah. Yesus rupanya merujuk itu dalam perumpamaan tentang seorang kaya dan Lazarus sebagai Pangkuan Abraham, kemana para malaikat membawa Lazarus, si pengemis yang saleh, setelah dia meninggal (Lukas 16:19-31). Jadi, pangkuan Abraham menunjuk pada tempat dimana roh-roh  orang yang ditebus  menunggu hingga hari kebangkitan Kristusyang dhari kebangkitan Kristus. Diduga ini adalah tempat yang sama dengan Firdaus. Tempat itu belum diangkat ke surga, tetapi mungkin sekali merupakan satu bagian dari dunia orang mati (Sheol), disediakan bagi orang-orang percaya yang mati dalam iman, namun belum diijinkan masuk ke dalam kemuliaan hadirat Allah di surga sampai harga atau kurban penebusan telah benar-benar di bayar di Golgota”.[60] Jadi kelihatannya Gleaser L. Acher jelas membedakan firdaus dari surga. Kata “firdaus” berasal dari bahasa Persia kuno “pairidaeza” yang artinya “tempat yang berpagar”. Pengertian tersebut kemudian berkembang menjadi “halaman kesukaan”, yang menunjuk kepada suasana yang ada di taman itu. Kata “pairidaeza” itu kemudian diterjemahkan menjadi “paradeisos” oleh penerjemah kitab Septuaginta, yaitu kitab Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani. Kata “paradeisos” ini diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi “paradise” yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan “firdaus”. Jadi kata “firdaus” merupakan padanan kata untuk “taman eden”.[61] Sebagiamana taman eden merupakan bagian dari surga di bumi pada masa lalu sebelum manusia jatuh dalam dosa, maka demikian juga firdaus adalah bagian dari surga (Bandingkan Lukas 23:43), dan di dalam fidaus itu akan ada suatu taman yang disebut taman firdaus Allah (Wahyu 2:7b).[62]

6. Kerajaan maut (sheol atau hades) adalah tempat yang berbeda dari “Neraka (gehenna). Berbagai kutipan untuk menjelaskan tentang neraka seperti berikut ini. Kamus Gambaran Alkitab (Dictionary of The Imagenary) menjelaskan neraka demikian, “Gambaran terbaik alkitabiah untuk neraka berasal dari jurang di bagian selatan Yeruselam yang dalam dan sempit yang disebalah lembah Ben Hinom, dimana bangsa Israel yang musyrik mempersembahkan korban seorang anak kepada dewa Molokh dan Bael (2 Tawarikh 28:3; 33:6; Yeremia 7:31,32; 19:2-6). Kata Yunani untuk Gehenna (neraka), yang  biasanya digunakan dalam Perjanjian Baru untuk tempat penghukuman akhir, berasal dari nama lembah ini...”.[63] MacArthur Study Bible menjelaskan tentang neraka demikian, “Tofet artinya tempat yang sangat dibenci. Bangsa Israel yang menyembah berhaa telah membakar hidup-hidup korban manusia di lembah itu sebelah selatan Yerusalem, daerah yang terkadang disebut lembah Hinom (2 Raja-raja 23:10; Bandingkan Yeremia 19:6). Belakangan itu dikenal sebagai Gehenna, tempat orang-orang yang di tolak oleh kota, dengan nyala api yang terus menerus, melambangkan neraka”.[64] Vine’s Complete Expository Dioctionary of Old and New Tastament Words menjelskan demikian, “Gehenna mewakili bahsa Ibrani Ge-Hinnom (Lembah Tofet) dan sebuah kata Aram yang berhubungan; itu ditemukan dua belas kali di Perjanjian Baru. Tempat kediaman jiwa-jiwa yang terkutuk dan Iblis”.[65]

Neraka benar-benar merupakan suatu tempat yang nyata. Walaupun tidak ada yang tahu persis letak neraka, hal ini tidak menjadikan neraka sebagai sesuatu yang abstrak, tidak nyata, atau khayalan belaka.  Yesus berbicara dan mengajar tentang neraka. Yesus sendiri berbicara tentang neraka, dan sebelas dari dua belas kali kata gehenna (neraka) diucapkan oleh Yesus dan dicatat dalam Perjanjian Baru.  Kata Yunani dalam Perjanjian Baru yaitu Gehenna diterjemahkan sebagai neraka sebanyak dua belas kali. Inilah tempat penghukuman akhir, kekal dan permanen (Matius 5:22,29,30; 10:28; 18:9; 23:15,33; Markus 9:43,45,47; Lukas 12:5; Yakobus 3:6). Kata ini juga diterjemahkan sebagai lautan api sebanyak lima kali (Wahyu 19:20; 20:10,14,15; 21:8). Dengan demikian, kata “Gehenna” dan “lautan api” merupakan dua istilah yang sinonim dan istilah ini berbeda dengan dari sheol (hades). Charles F. Beker menjelaskan, demikian, “dua istilah ini sinonim. Inilah neraka sesungguhnya dan yang terakhir menurut Alkitab. Lautan api disiapkan bagi Iblis dan malaikat-malaikatnya (Matius 25:41). Tempat ini tidak ada hubungannya dengan keadaan antara (intermediate state), karena belum ada orang yang dilemparkan ke sana. Binatang itu dan si nabi palsu yang pertama dilemparkan ke dalamnya kelak, menurut kitab wahyu (Wahyu 19:20; 20:10)”. [66]

Evaluasi : Jadi menurut Alkitab, sheol (hades) itu berbeda dari neraka (Gehenna). Jadi kita menolak pandangan yang menyatakan bahwa neraka dan hades itu sinonim. Orang-orang seperti Louis Berkhof dan Willian G.T Shedd tidak membedakan sheol (hades) dengan neraka. Namun pandangan Louis Berkhof dan Willian G.T Shedd telah dibantah oleh Anthony Hoekema. Menurut Hoekema, ayat-ayat (Mazmur 9:18; 55:16; Amsal 15:24, dan lainnya) yang dipakai oleh Louis Berkhof dan Willian G.T Shedd untuk mendukung pengertian bahwa sheol sejajar dengan neraka sama sekali tidak meyakinkan.[67] Nampaknya Hoekema juga menganggap Sheol (hades) sebagai masa antara (intermediate state), walaupun pandangannya sedikit berbeda dari pengertian kebanyak kaum Injili khususnya tentang firdaus. [68]  

Karena itu, saya telah mendaftarkan perbedaan-perbedaan sheol (hades) dari neraka (Gehenna) sebagai berikut : (1) Sheol (hades) adalah tempat sementara (intermediate state), sedangkan nereka adalah tempat yang permanen dan berlangsung selamanya;[69] (2) Sheol (hades) berisi orang-orang mati yang telah meninggal yang, sedangkan neraka (Gehenna) saat ini masih kosong tidak berpenghuni; (3) Sheol (hades)  terdiri dari dua bagian, yaitu tempat siksaan (penderitaan dan nyala api) dan pangkuan Abraham (tempat yang sejuk dan penuh penghiburan), yang dipisahkan oleh jurang yang tak terseberangi (Lukas 16:19-31). Setelah kebangkitan Kristus Pangkuan Abraham atau firdaus itu dipindahkan ke surga menjadi bagian dari surga; Sedangkan neraka merupakan satu tempat tunggal lautan api dan tanpa pembagian ruangan.

Lebih lanjut perbedaan itu, (4) Penghukuman di sheol (hades) bagi orang fasik dilakukan setelah kematian dan sebelum kebangkitan tubuh pada akhir zaman. Jadi merupakan tempat siksaan sementara bagi jiwa-jiwa tanpa tubuh jasmani, sambil menunggu kebangkitan tubuh di hari penghakiman untuk penghukuman permanen / kekal di neraka (Bandingkan Markus 9:43,48); sedangkan penghukuman di neraka terjadi setelah kebangkitan tubuh dan penghakiman terakhir. Pada akhir zaman tubuh orang fasik dibangkitkan dan menyatu kembali dengan jiwa / rohnya untuk kemudian dilemparkan selama-lamanya ke nereka / lautan api (Wahyu 20:11-15; Bandingkan Matius 10:28).[70] Sementara itu, walaupun sama-sama pergi ke sheol (hades), jiwa orang-orang benar di Perjanjian Lama (dari zaman Adam hingga kematian Kristus) di tempatkan dalam ruangan berbeda yaitu pangkuan Abraham atau firdaus untuk menikmati penghiburan dan kedamaian sambil menunggu penebusan yang sempurna oleh Kristus melalui kematianNya di kayu salib, dan dalam kebangkitanNya membawa Firdaus dan semua penghuni di dalamnya ke surga. Tim LaHaye menjelaskan, “Di dalam Perjanjian Lama, dosa-dosa untuk sementara dihapus oleh darah anak domba yang tanpa cacat. Namun, darah binatang tidaklah cukup untuk  secara permanen menyucikan dosa-dosa mereka (Ibrani 9:9-10). Pengorbanan (upacara korban) adalah suatu tindakan kepatuhan, dimana seseorang menunjukkan imannya bahwa suatu hari nanti Allah akan menyediakan penyucian dari dosa melalui pengorbanan AnakNya yang sempurna. Ketika Tuhan kita, Yesus Kristus, berseru dari kayu salib, “sudah selesai”, maksudNya adalah bahwa utang dosa manusia telah dibayar lunas. Allah dalam wujud manusia dapat melakukan apa yang tidak dapat dilakukan oleh korban hewan, menebus dosa seluruh dunia. Setelah menyerahkan nyawaNya, Yesus turun ke hades dan memimpin semua orang kudus Perjanjian Lama, yang telah ditawan hingga saatnya dosa ditebus, naik ke surga, dimana mereka bersama-sama dengan Dia”.[71] Di firdaus ini, baik orang Perjanjian Lama maupun orang Percaya dalam Kristus, menanti kebangkitan tubuh pada hari kedatangan Kristus kembali di akhir zaman. Pada saat itu tubuh yang baru, yaitu tubuh kemuliaan akan menyatu dengan jiwa / roh untuk selama-lamanya bersama Tuhan di langit dan bumi yang baru (Wahyu 21:1-27).

Perbedaan lainnya antara sheol (hades) dari neraka (gehenna) adalah : (5) sheol (hades) adalah tempat penghukuman sementara hanya bagi jiwa-jiwa orang fasik; sedang nereka merupakan tempat penghukuman kekal dimana secara berturut-turut yang dilempar ke sana adalah : Antikristus, binatang dan nabi palsu (Wahyu 19:20; 20:10), Iblis (Wahyu 20:10), maut dan kerajaan maut / hades (Wahyu 20:14), dan semua orang fasik yang namanya tidak tercatat dalam kitab kehidupan (Wahyu 20:15). Dengan demikian jelaslah sudah bahwa sheol (hades) itu berbeda dengan neraka, karena hades (kerajaan maut) dan maut sebagai penguasa di hades suatu saat akan dilemparkan ke dalam neraka (gehenna).


[1] Abineno, J.L.Ch., 2012. Tafsiran Alkitab : Surat Efesus. Penerbit BPK Gunung Mulia : Jakarta, hal. 128.

[2] Bdk. Pandensolang, Welly., 2009. Kristologi Kristen. Penerbit YAI Press : Jakarta, hal. 253-254.

[3] Teks Pengakuan Iman Rasuli dalam bahasa Latin : “Credo in Deum Patrem omnipotentem; Creatorem coeli et terrae. Et in Iesum Christum, Filium ejus unicum, Dominum nostrum; qui conceptus est de Spiritu Sancto, natus ex Maria virgine; passus sub Pontio Pilato, crucifixus, mortuus, et sepultus; descendit ad inferna; tertia die resurrexit a mortuis; ascendit ad coelos; sedet ad dexteram Dei Patris omnipotentis; inde venturus (est) judicare vivos et mortuos. Credo in Spiritum Sanctum; sanctam ecclesiam catholicam; sanctorum communionem; remissionem peccatorum; carnis resurrectionem; vitam oeternam. Amen.”

[4] Peter, Wongso., 1992. Pengakuan-Pengakuan Iman Kristen. Diterbitkan SAAT : Malang, hal. 1.

[5] Pada awalnya, gereja tidak memiliki rumusan pengakuan iman karena mereka memiliki dasar kepercayaan yang sama. Kemudian sesudah zaman para rasul berlalu, muncul pengajaran-pengajaran sesat dan menyimpang dari kebenaran yang telah diajarkan, sehingga untuk melawan para bidat itu mulailah dibuat pengakuan iman. Jadi sebenarnya pengakuan iman Kristen adalah suatu ketetapan pada konsili atau sidang yang mengambil Alkitab sebagai dasar kepercayaan, yang kemudian diringkas menjadi suatu pengakuan yang dipercayai dan diakui bersama-sama oleh semua orang Kristen dari berbagai Gereja.

[6] Ryrie, Charles C., 1991. Teologi DasarJilid 1. Terjemahan, Penerbit ANDI Offset: Yogyakarta, hal. 28.

[7] Ibid.

[8] Ryrie, Charle. C., Dispensasionalismhal. 306.

[9] Hadiwijono, Harun., 1999. Iman Kristen. Penerbit BPK Gunung Mulia : Jakarta, hal. 336.

[10] Berkhof, Louis., 2011. Teologi Sistematika: Doktrin Kristus. Terjemahan, Penerbit Momentum: Jakarta, hal. 87.

[11] Hadiwijono, Harun., Iman Kristen, hal. 336.

[12] Peter, Wongso., 1992. Pengakuan-Pengakuan Iman Kristen. Diterbitkan SAAT : Malang, hal. 1.

[13] Berkhof, Louis., Teologi Sistematika: Doktrin Kristus, hal. 90-91.

[14] Hadiwijono, Harun., Iman Kristen, hal. 336.

[15] Beker, Charles. F., 1994. A Dispensasional Theology. Terjemahan, Penerbit Alkitab Anugerah: Jakarta, hal. 756-765.

[16] Berkhof, Louis., Teologi Sistematika: Doktrin Kristus, hal. 90-91.

[17] Ibid, hal. 91.

[18] Enns, Paul., 2004. The Moody Handbook of Theology. Jilid 1 & 2 Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT: Malang, hal. 167.

[19] Arrington, French L., 2004. Doktrin Kristen Perspektif Pentakosta. Terjemahan, diterbitkan oleh Departemen Media BPS GBI : Jakarta, hal. 64-83..

[20] Ibid. hal. 68.

[21] Lihat : Beker, Charles. F., A Dispensasional Theology, hal. 759-760; Pandensolang, Welly., Kristologi Kristen, hal. 253-254.

[22] Hoekema, Anthony A., 2009. The Bible and The Future. Terjemahan, Penerbit  Momentum : Jakarta, hal. 123.

[23] Bandingkan : Ryrie, Charles C., 1991. Teologi DasarJilid 2. Terjemahan, Penerbit ANDI Offset: Yogyakarta, hal. 362; Pandensolang, Welly., 2004. Eskatologi Biblika. Penerbit Andi Offset : Yoyakarta, hal. 88.

[24] Beker, Charles. F.,  A Dispensasional Theology, hal. 749.

[25] Prince, Derek., 2005. Fondations Rightouness Living. Jilid 3. Terjemahan, Penerbit Derek Prince Ministries Indonesia: Jakarta, hal. 75.

[26] Thiessen, Henry C., 1992. Teologi Sistematika, direvisi Vernon D. Doerksen. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas: Malang, hal. 591.

[27] Beker, Charles. F., A Dispensasional Theology, hal. 765.

[28] Erickson J. Millard., 2003. Teologi Kristen, Jilid 3. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang, hal. 493.

[29] Ibid.

[30] Thiessen, Henry C., Teologi Sistematika, hal. 591.

[31] Wiese, Bill., 2009. Hell. Terjemahan, Penerbit  Light Publising : Jakarta, hal. 193.

[32] Enns, Paul., 2004. The Moody Handbook of Theology. Jilid 1 Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT: Malang, hal. 465.

[33] Lahaye, Tim., 2005. Memahami Nubuatan Alkitab Bagi Diri Anda. Terjemahan, Penerbit Gospel Press: Batam, hal. 211.

[34] Ibid.

[35] Ibid.

[36] Hoekema, Anthony A., The Bible and The Future, hal. 128.

[37] Pandensolang, Welly., 2004. Eskatologi Biblika. Penerbit Andi Offset : Yoyakarta, hal. 88.

[38] Jeffrey, Grant. R., 2001. Journey Into Eternity. Terjemahan, Penerbit  Yayasan Pekabaran Injil Immanuel : Jakarta, hal. 117.

[39] Thiessen, Henry C., Teologi Sistematika, hal. 590

[40] Pandensolang, Welly., Eskatologi Biblika, hal. 88-89.

[41] Jefrray, R.A., 1999. Perumpamaan Tuhan Yesus, jilid 2. Penerbit Kalam Hidup: Bandung., hal. 116.

[42] Kistemaker, Simon. J., 2010. Perumpamaan-perumpamaan Yesus. Terjemahan, penerbit Literatur SAAT : Malang, hal. 258.

[43] Prince, Derek., Fondations Rightouness Living. Jilid 3, hal. 77-78.

[44] Marshall, I. Howard., Lukas, hal. 235.  (Lihat : Guthrie, Donald, dkk., 1982. Tafsiran Alkitab Masa Kini. Jilid 3. Terjemahan. Penerbit Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF : Jakarta).

[45] [45] Jefrray, R.A., Perumpamaan Tuhan Yesus, jilid 2, hal. 108.

[46] Hoekema, Anthony A., The Bible and The Future, hal. 135.

[47] Ibid.

[48] Thiessen, Henry C., Teologi Sistematika, hal. 591

[49] Ibid.

[50] Wiese, Bill., Hell, Jakarta, hal. 194.

[51] Willmington, H.L., 2003. The King Is Coming. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang, hal. 325.

[52] Archer, Gleason, L., 2009. Encyclopedia Of Bible Difficulties. Terjemahan, Penebit Gandum Mas : Malang, hal. 627.

[53] Wiese, Bill., Hell, Jakarta, hal. 189.

[54] Beker, Charles. F.,  A Dispensasional Theology, hal. 762.

[55] Ibid, hal762-764.

[56] Wiese, Bill., HellJakarta, hal. 194.

[57] Thiessen, Henry C., Teologi Sistematika, hal. 592.

[58] Lahaye, Tim., Memahami Nubuatan Alkitab Bagi Diri Anda, hal. 219-20.

[59] Menurut Charles F. Beker, Alkitab mengenali tiga tingkat surga (2 Korintus 12:2). Tingkatan-tingkatan tesebut biasanya digambarkan sebagai : (1) langit (TB: langit; KJV: heaven, surga atau langit) yang memiliki atmosfir, tenpat burung-burung terbang (Yeremia 4:25, KJV: Birds of the heavens); (2) langit tempat bintang-bintang (kejadian 22:17, KJV: stars of the heaven; Matius 24:29, KJV: stars shall fall from heaven); (3) langit yang mengatasi segala langit, atau surga tempat kediaman Allah (1 Raja-raja 8:27,30, KJV: heaven of heavens (Beker, Charles. F.,  A Dispensasional Theology, hal. 756-757). Yang kita maksud dengan surga yang sebenarnya adalah pengertian yang ketiga, tempat kediaman Allah, yaitu langit yang mengatasi segala langit. Beberapa tahun setelah kebangkitan dan kenaikan Kristus ke surga, rasul Paulus mendapatkan penglihatan mengenai surga tingkat ketiga (2 Korintus 12:2), nampaknya yang dimaksud oleh Paulus adalah firdaus, yang merupakan bagian dari surga. Atau yang menurut Anthoney Hoekema disebut juga, “dunia orang mati yang penuh berkat” ketika menafsir Lukas 23:42-43.[59]

[60] Archer, Gleason, L., 2009. Encyclopedia Of Bible Difficulties. Terjemahan, Penebit Gandum Mas : Malang, 627.

[61] Suyadi, Markus., 2009. 343 Tanya Jawab Seputar Akhir Zaman. Penerbit Andi Offset : Yoyakarta, hal. 151-152.

[62] Firdaus hanya disebutkan 3 kali dalam Alkitab, yaitu dalam Lukas 23:43;  1 Korintus 12:4; Wahyu 2:7).

[63] Ryken, Leland, James C. Wilhoit, Tremper Longman III, editor., 2002. Kamus Gambaran Alkitab. Terjemahan, Penerbit Momentum: Jakarta, hal. 768.

[64] Wiese, Bill., Hell, hal 196.

[65] Ibid, hal 197.

[66] Beker, Charles. F.,  A Dispensasional Theology, hal. 762.

[67] Hoekema, Anthony A., The Bible and The Future, hal. 129

[68] Lihat pembahasan Anthony A Hoekema dalam The Bible and The Future, hal. 123-145.

[69] Lahaye, Tim., Memahami Nubuatan Alkitab Bagi Diri Anda, hal. 211.

[70] Bandingkan : Erickson J. Millard., 2003. Teologi Kristen, Jilid 3. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang, hal. 503-504.

[71] Lahaye, Tim., Memahami Nubuatan Alkitab Bagi Diri Anda, hal. 221.

No comments:

Post a Comment