Latest News

Showing posts with label Apologetika. Show all posts
Showing posts with label Apologetika. Show all posts

Sunday, August 3, 2014

ARGUMENTASI DAN THEOLOGIA DALAM MEMBERITAKAN INJIL




KATA PENGANTAR DARI PDT. BUDI ASALI, M.DIV



Ini adalah sebuah buku tentang penginjilan pribadi, tetapi bahan2 dalam buku ini juga bisa digunakan dalam penginjilan massal (melalui khotbah).

Ada banyak cara/metode dalam penginjilan pribadi, dan saya berpendapat bahwa setiap org harus mempelajari sebanyak mungkin cara/metode, dan lalu memilih yg paling cocok baginya, atau menggabung-gabungkan beberapa cara/metode bagi dirinya sendiri.

Ada banyak org yg beranggapan bahwa penginjilan pribadi tidak boleh dilakukan dengan argumentasi, sehingga mereka lalu menciptakan cara penginjilan pribadi seperti itu (tanpa argumentasi). Tetapi saya beranggapan bahwa tidak salah untuk berargumentasi pada waktu melakukan penginjilan pribadi, selama kita bisa melakukannya dengan baik. Kita melihat bahwa dalam Kitab Suci, rasul-rasul dan orang2 Kristen melakukan penginjilan dengan menggunakan argumentasi. Misalnya: Paulus dalam Kis 9:22,29; 15:2; 17_17-18; 18:4; 19:8-9; 28:32b, Stefanus dalam Kis 6:9-10, Apolos dalam Kis 18:28. Jadi jelas bahwa berargumentasi dalam pemberitaan Injil tidak harus salah.

Saya sendiri termasuk org yg senang berargumentasi, dan sering memberitakan Injil, baik secara pribadi maupun secara massal, dengan menggunakan argumentasi. Karena itu, saya menulis buku ini, yg mengajarkan bagaimana memberitakan Injil dengan menggunakan argumentasi. Buku ini juga mencakup pelajaran yg mengajarkan bagaimana menjawab keberatan2 dari orang2 yg kita Injili.

Untuk bisa memberitakan Injil dengan menggunakan argumentasi, jelas bahwa si pemberita Injil membutuhkan pengertian Kitab Suci yang lebih banyak, karena ia harus bisa menjawab keberatan/serangan dari orang yang ia Injili. Karena itu, dalam buku ini saya juga menambahkan theologia/doktrin2 yang berkenaan dengan penginjilan, untuk menyuplai kebutuhan pengertian Kitab Suci tersebut. Dan karena itu, maka sesuai dengan isinya, buku ini saya beri judul �ARGUMENTASI DAN THEOLOGIA DALAM MEMBERITAKAN INJIL.�

Kalau saudara adalah org yg seperti saya, dalam arti bahwa saudara senang berargumentasi, maka buku ini mungkin cocok bagi saudara. Dan kalaupun saudara bukan orang yg senang berargumentasi, theologia/doktrin2 yg berkenaan dengan penginjilan dalam buku ini tetap bisa sangat berguna bagi saudara.
Saya berdoa dan berharap agar buku ini bisa betul2 berguna bagi saudara dalam memberitakan Injil, dengan atau tanpa argumentasi, secara pribadi ataupun secara massal, supaya banyak org bisa dibawa kepada Kristus, dan pada akhirnya Tuhan dipermuliakan melalui semua ini.



DAFTAR ISI

A. Mengapa Kita Harus Memberitakan Injil ?
B. Yesus : Satu - satunya Jalan Ke Surga
C. Syarat-syarat Penginjil Pribadi Yang Baik
D. Cara Memberitakan Injil
E. Penolakan Terhadap Injil & Cara Mengatasinya
F. Orang Kristen Duniawi
G. Macam - macam   Iman
H. Apendix: Pembahasan Yakobus 2:14-26




PEMESANAN:
Buku setebal +/- 130 halaman ini bisa di pesan kepada:
Pdt. Budi Asali
HP: 7064-1331 / 6050-1331 / 0819-455-888-55
Email: buas22@yahoo.com
Harga buku: Rp. 32.000,- (belum termasuk ongkos kirim).

Monday, December 5, 2011

SOLA SCRIPTURA


Oleh: Albert Rumampuk



SOLA SCRIPTURA
Seorang tokoh reformator gereja abad ke-16, Martin Luther, membuat sebuah gebrakan yang menggemparkan dunia Katolik Roma. Tanggal 31 Oktober 1517, ia menempelkan 95 thesisnya di pintu gereja Wittenberg, Jerman.

Tindakan Luther ini dilatarbelakangi karena adanya surat Indulgensia pada masa kekuasaan Paus Leo X dalam rangka pembangunan gedung Rasul Petrus di Roma dan pelunasan hutang Uskup Agung Albrech dari Mainz. Dengan membeli surat penghapusan dosa itu (surat indulgensia), maka dosa manusia dihapuskan. Dikatakan bahwa saat uang berdering di peti, jiwa akan melompat dari api penyucian ke surga.

Thesis Luther yang ke-27 “They preach only human doctrines who say that as soon as the money clinks into the money chest, the soul flies out of purgatory.”

Bagi Luther, ini adalah suatu penyimpangan dari Kitab Suci / firman Tuhan. Karena itu, ia menentang keras penggunaan surat tersebut. Dia mengatakan bahwa orang yang percaya pada surat pengampunan dosa untuk keselamatannya, justru akan dihukum secara kekal!  

Thesis yang ke-32 “Those who believe that they can be certain of their salvation because they have indulgence letters will be eternally damned, together with their teachers.”

Tanggal dimana Luther memaku 95 dalilnya, kemudian terus diperingati sebagai Hari Reformasi. Salah satu semboyan dari Reformasi ialah Sola Scriptura, yang berarti hanya Kitab Suci. Martin Luther begitu sangat menekankan Kitab Suci sebagai satu-satunya dasar ajaran / iman, sekalipun dia harus diperhadapkan dengan otoritas Paus yang mengutuknya. Luther bahkan membakar surat resmi berupa anjuran Paus agar dia mencabut semua pandangannya itu!

Seberapa pentingkah Kitab Suci / Alkitab bagi kekristenan? Mengapa orang Kristen seharusnya berpegang / mendasari imannya hanya pada Alkitab saja? Bisakah orang Kristen menggunakan kitab-kitab agama lain untuk menunjukkan kebenaran Alkitab?


Keharusan Alkitab

2 Timotius 3:16 “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”

Ada dua hal yang ditekankan dalam ayat ini.

1) Alkitab adalah firman Allah

2Tim 3:16 terjemahan baru LAI berbunyi: “Segala tulisan yang diilhamkan Allah...” Ini sebetulnya salah terjemahan karena dalam bahasa aslinya (Yunani), kata ‘yang’ itu tidak ada! (C. Ryrie, Teologi dasar 1, hal. 97).

Bandingkan dengan versi NASB.

NASB: ‘All Scripture is inspired by God’ (= seluruh Kitab Suci diilhamkan oleh Allah).

Paulus menegaskan bahwa seluruh Kitab Suci diilhamkan Allah!
Tulisan-tulisan mana yang dimaksudkan Paulus? Seluruh Alkitab! Mungkin ada yang berkeberatan dan memprotes bahwa Paulus tidak memaksudkan pada seluruh kitab dalam PB, tetapi hanya kitab-kitab PL dan sebagian PB. Keberatan ini memang masuk akal, karena bukankah saat Paulus menulis 2 Timotius, belum semua kitab-kitab PB (seperti Ibrani, Yudas, dsb) itu ditulis? Ryrie menjawab: “Meskipun benar bahwa belum semua dari PB dituliskan ketika Paulus menulis 2 Tim. 3:16 (yaitu 2 Petrus, Ibrani dan Yudas serta tulisan Yohanes belum ditulis), namun karena kitab-kitab itu akhirnya diakui sebagai bagian dari kanon Alkitab, kita boleh menyimpulkan bahwa 2 Tim. 3:16 meliputi semua ke 66 kitab sebagaimana kita mengenalnya sekarang. Tidak satu kitab pun atau sebagiannya yang dikecualikan. Segenap Alkitab diilhamkan Allah.” (Teologi dasar 1, hal. 97).

Disamping itu, kata ‘tulisan’ / ‘Kitab Suci’ (Yunani = graphe) dalam ayat tersebut, digunakan sebanyak 50 kali dalam sepanjang PB, dan selalu menunjuk pada tulisan-tulisan dari Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. “Dengan tidak menyertakan artikel, kata γραφή  (grafe) selalu digunakan untuk bagian atau kitab dari Alkitab. Dengan demikian menjadi jelas bahwa tidak satupun bagian atau kitab dalam Perjanjian Lama dan Baru yang tidak diilhamkan Allah.” (Dr. Arnold Tindas, Inerrancy Ketaksalahan Alkitab, HITS. hal 184).

Alkitab adalah tulisan yang diilhamkan / diinspirasikan oleh Allah. Apa maksudnya?

Ungkapan ‘diilhamkan’ berasal dari kata Yunani THEOPNEUSTOS, “yang secara harafiah berarti ‘dinafaskan Allah’… Paulus menggunakan istilah ‘dinafaskan Allah’ untuk menyatakan bahwa setiap bagian atau kitab dari Alkitab adalah produksi Allah. Pengilhaman yang dimaksudkan di sini adalah pengilhaman kata demi kata secara menyeluruh (plenary verbal inspiration), sebab setiap bagian atau Alkitab secara keseluruhan adalah ‘dinafaskan Allah.’” (Tindas, Inerrancy Ketaksalahan Alkitab, HITS. hal 186,187).

B B. Warfield memberi definisinya:

“... inspirasi biasanya didefinisikan sebagai suatu pengaruh supranatural dari Roh Allah yang menggerakkan para penulis kitab Suci, sehingga tulisan mereka dinyatakan memiliki kepatutan dipercaya yang bersifat ilahi.” (The Inspiration and Authority of the Bible, hal. 131).

Bandingkan dengan 2 Ptr. 1:21 “sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.”

Jadi, ‘Inspirasi’ berbicara tentang tindakan Allah yang menguasai / memimpin para penulis Alkitab sedemikian rupa sehingga meskipun ditulis oleh para penulis manusiawi (sesuai dengan gaya / kepribadiannya), namun itu dicatat dengan akurat dan tanpa salah pada naskah aslinya (autograph). Karena setiap bagian dari Alkitab adalah produksi Allah, ini jelas menunjukkan bahwa Alkitab adalah firman Allah!

2)  Akitab adalah Kitab Suci yang bermanfaat.

Ini adalah tujuan dari inspirasi / pengilhaman oleh Allah. Alkitab yang adalah firman Allah, tentu dapat memberi manfaat bagi manusia. Ada empat hal yang ditekankan disini:

Mengajar. Alkitab memuat begitu banyak ajaran-ajaran / doktrin Kristen. Seperti ajaran tentang keilahian Yesus, Allah Tritunggal, keselamatan, kekudusan, dsb. Dengan mempelajarinya, kita dapat memahami setiap ajarannya. Alkitab adalah satu-satunya sumber pengajaran yang benar.

Menyatakan kesalahan. Konteks menunjukkan bahwa Alkitab bukan hanya dapat menyatakan / membuktikan setiap dosa manusia, tetapi juga menyatakan kesalahan pandangan / pengajaran. Dulu saya pernah punya pandangan bahwa saat Yesus bangkit dan naik ke surga, saat itu kemanusiaannya sudah tidak ada lagi. Dia kembali menjadi Allah 100% tanpa kemanusiaan. Saat mempelajari Alkitab, kesalahan saya kemudian dinyatakan.

Memperbaiki kelakuan. Hidup kita akan semakin bertumbuh / meningkat dalam kebenaran.

Mendidik orang dalam kebenaran. Setelah kesalahan dinyatakan dan diperbaiki, selanjutnya Alkitab berguna untuk membina / melatih manusia di jalan kebenaran.

Semua ini adalah manfaat yang dapat ditemukan dalam Alkitab. Setelah menyatakan keempat hal ini, Paulus kemudian meneruskan: “Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” (2 Timothy 3:17) 

Yesus sendiri mendeklarasikan bahwa hanya wahyu Allah yang adalah kebenaran. Saat Dia berdoa untuk para murid-Nya, Dia berkata: “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.” Yoh 17:17 (Bdk. Mzm 119:142).

Tindas menyimpulkan sebagai berikut: “Dari segi status, Alkitab itu mempunyai otoritas penting dan tertinggi karena produksi Allah. Sedangkan dari segi makna, Alkitab itu menjadi tolok ukur kebenaran yang tak ada bandingannya.” (Inerrancy Ketaksalahan Alkitab, HITS. hal 191).

Dua point yang ditekankan dalam 2 Tim 3:16 menunjukkan bahwa hanya Alkitab yang adalah Firman Tuhan dan menjadi standar kebenaran yang mutlak! Dengan demikian, orang Kristen seharusnya hanya menggunakan Alkitab saja, baik dalam proses belajar-mengajar, maupun dalam menjalani kehidupan.


Bolehkah umat Kristen menggunakan Kitab Agama lain dalam berapologi?

1Pet 3:15  “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat”.

Kata-kata ‘pertanggungan jawab’ berasal dari kata Yunani APOLOGIA (suatu pembelaan). Ayat ini merupakan perintah bagi orang Kristen untuk memberi pembelaan iman. Saat iman Kristen diserang, kita diperintahkan untuk dapat memberi apologi / jawaban.

Apa yang seharusnya menjadi dasar umat Kristen dalam apologetika? Bisakah mengunakan kitab agama lain?

Tanggal 21 Maret 2008, di sebuah gereja di Palu, diselenggarakan sebuah seminar dengan topic “SYAHIDIN KRISTUS DALAM BUDAYA ISLAM” dan “OTENTISITAS ALKITAB MENURUT KESAKSIAN AL-QUR’AN.” Pembicara / pendeta yang memimpin seminar ini mengajarkan dan membuktikan kebenaran Alkitab menurut Al-Quran. Menurutnya, dalam menghadapi umat Islam, tidak salah jika kita menggunakan ayat-ayat Qur’an untuk menyatakan keilahian Yesus, dsb. Bahkan, sang pendeta merencanakan sebuah pelatihan khusus mengenai hal ini.

Benarkah Alkitab memberi persetujuannya?

Setelah melihat pentingnya Alkitab bagi orang Kristen menurut 2 Tim. 3:16, saya mengajak saudara untuk melihat teks selanjutnya dalam Efesus 6:10-20.

[10] Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. [11] Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; [12] karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. [13] Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. [14] Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, [15] kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; [16] dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, [17] dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, [18] dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus, [19] juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil, [20] yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara.”

Ayat-ayat ini sedang memberi gambaran tentang kehidupan Kristen sebagai suatu peperangan. Inti yang dibicarakan adalah, adanya konfrontasi antara orang percaya dengan kuasa kegelapan (iblis dan antek-anteknya). Setiap orang percaya pasti akan mengalami pergumulan dalam hidupnya, baik masalah pribadi, keluarga, serangan ajaran-ajaran sesat, dsb.

Bagaimana menyikapi setiap persoalan / serangan setan itu? Melalui teks ini, Allah memerintahkan kita untuk menggunakan seluruh perlengkapan senjata Allah!

Saya akan memberi eksposisi secara ringkas terhadap ayat-ayat ini.

Paulus menulis ayat-ayat ini saat dia sedang berada di penjara (ayat 20). Teks ini terdiri dari tiga bagian: perjuangan orang percaya (ayat 10-12), perlengkapan orang percaya (ayat 13-17), dan doa (ayat 18-20).

[10] Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. ‘Hendaklah kamu kuat’ (Yunani = ENDUNAMOUSTHE) adalah kata kerja bentuk perintah (present imperative); perintah yang harus dilakukan terus-menerus. Namun perlu diingat bahwa kata ini juga adalah bentuk pasif, kekuatan disini bukan berasal dari jemaat itu sendiri, tetapi kekuatan yang hanya didapatkan dalam Tuhan saja. Lihat Yoh 15:5 “… sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Bdk. Fil 4:13). [The Wycliffe Bible Commentary, Vol 3, Gandum Mas, hal. 763; Eksposisi Surat Paulus kepada Jemaat di Efesus: Budi Asali M.Div].

 [11] Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis.Ini lagi-lagi adalah perintah dari Tuhan agar orang Kristen mengambil / mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah. ‘Senjata’ adalah symbol yang bicara tentang ‘suatu alat’ yang dapat digunakan untuk bisa bertahan melawan tipu muslihat iblis. Disini iblis digambarkan sebagai seorang yang penuh dengan ‘tipu muslihat’ (cerdik / licik), yang punya banyak cara / strategi. Tanpa ‘senjata Allah’ ini, kita tak mungkin bisa bertahan menghadapi berbagai serangan iblis itu.

[12] karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Bagian ini menjelaskan tentang siapa sesungguhnya lawan dari orang Kristen. Bukan bicara tentang hal-hal yang jasmani (Sesama orang percaya, orang-orang non Kristen / penganut agama lain, dsb), tetapi lebih bersifat rohani, yaitu melawan kuasa-kuasa kegelapan / kekuatan roh jahat. Wycliffe menjelaskan bahwa ini menunjukkan adanya berbagai tingkatan / golongan di kalangan bala tentara iblis yang adalah musuh kita (hal 763).

[13] Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Setelah Paulus menjelaskan betapa hebatnya perjuangan orang percaya, ia kemudian menasehati untuk mengenakan perlengkapan senjata Allah. Bagian awal ayat ini sedang menekankan tanggung jawab manusia. Sekalipun Allah telah menyediakan semua senjata itu, tetapi manusia harus mengambil / mengenakannya. Senjata ini berfungsi untuk menangkis / melawan serangan musuh. Kata-kata ‘hari yang jahat itu’ menunjuk pada situasi yang mengancam, saat dimana setan menyerang kita dan ini bisa terjadi kapan saja. Ayat ini secara implicit menyatakan bahwa kita bisa menang menghadapi serangan setan itu.

[14] Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, [15] kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; [16] dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, [17] dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah.‘Senjata Allah’ digambarkan sebagai perlengkapan prajurit Romawi. Ayat-ayat ini menjelaskan secara rinci tentang senjata-senjata Allah itu:
  • Ikat pinggang yaitu kebenaran. 
  • Baju zirah yaitu keadilan (Yunani = DIKAIOSUNE) 
  • Kasut yaitu pemberitaan Injil. Kita dituntut untuk selalu siap sedia memberitakan Injil. Ini adalah kabar baik yang menghasilkan damai sejahtera.
  • Perisai yaitu iman. Bicara tentang keyakinan / kepercayaan akan Firman Tuhan / Kristus. 
  • Ketopong keselamatan dan pedang Roh yaitu Firman Tuhan. ‘Pedang’ adalah ‘senjata’ yg digunakan bukan hanya untuk menyerang, tapi juga bertahan. Dan ini hanya ada di dalam firman Tuhan / Alkitab.

Orang percaya digambarkan sebagai prajurit-prajurit Allah. Dengan demikian, seharusnyalah kita menggunakan seluruh perlengkapan senjata yang telah disediakan Allah, panglima kita.

[18] dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus, [19] juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil, [20] yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara.”Sekalipun Paulus mengakhiri uraiannya tentang perlengkapan senjata Allah di ayat 17, namun dia lalu menghubungkan / melanjutkannya dengan doa. Dianjurkan bahwa orang percaya harus berdoa setiap waktu bukan hanya untuk anggota-anggota jemaat tetapi juga untuk Paulus (hamba Tuhan / pemimpin rohani). Kita bisa menganggap bahwa doa juga adalah senjata yang ampuh untuk melawan si jahat.

Dengan melihat latar belakang / konteks ayat ini, saya menyimpulkan sbb:

  • Ayat-ayat ini sedang menjelaskan bahwa hidup orang Kristen sebetulnya identik dengan pergumulan. Sama seperti Paulus yang bergumul (dianiaya / dipenjara), kita pun sebagai orang beriman pasti akan mengalami masalah. Persoalan itu, bukan hanya bicara tentang sakit penyakit, masalah keluarga, dsb, tetapi bisa juga karena adanya serangan setan lewat berbagai ajaran sesat yang menentang Injil / firman Tuhan.
  • Firman Tuhan menganjurkan kita untuk kuat dengan cara mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah.
  • Selanjutnya, kita harus berperang melawan segala kuasa / tipu muslihat si jahat. Ini suatu hal yang tak dapat dihindari jika kita tak ingin hancur / dikalahkan oleh si jahat itu.
  • Yakinlah, kita pasti bisa bertahan dan bahkan dapat memadamkan panah api-nya. Kita pasti menang!

Penerapan

Melalui teks ini, saya menyimpulkan bahwa dalam melakukan pembelaan iman (apologi), orang Kristen tidak boleh menggunakan kitab-kitab agama lain sebagai dasarnya. Mengapa? Karena hanya Alkitab / firman Tuhan yang adalah pedang Roh! (ayat 17). Dengan menggunakan kitab agama lain (misalnya Al-Quran) dalam berapologi, maka saudara sedang memberitakan Al-Quran. Ini menentang ayat 15 yang menganjurkan kita untuk hanya memberitakan Injil damai sejahtera.


Menjawab keberatan

Beberapa waktu yang lalu, saya memuat sebuah pertanyaan di salah satu forum / group di Face Book: “Bolehkah orang Kristen menggunakan Al Qur’an dalam berapologetik?” Saya memberi contoh para ‘murtadin’ (penganut Islam yang jadi Kristen, termasuk yang sudah menjadi pendeta), sering menggunakan Al-Quran untuk menyatakan keilahian Yesus, dsb. Benarkah tindakan mereka? Ada seorang Kristen (yang juga admin dan pemimpin group tersebut) dengan jelas menyetujui hal ini. Menurutnya, tidak masalah bagi orang Kristen untuk menggunakan Al Qur’an dalam apologi, karena didalamnya terkandung kebenaran-kebenaran tertentu. Misalnya: Qur’an mencatat tentang Isa yang adalah “kalam Allah”, dsb, ini cocok dengan ajaran Kristen.  

Ketika saya menyampaikan ayat-ayat dalam Ef 6 ini, dan mengatakan bahwa seharusnya orang Kristen tidak menggunakan Al- Quran dalam berapologi, seorang admin lain yang juga pengkotbah Kristen (PK) dan sering berdiskusi dengan kelompok Islam, kemudian mengkritik pandangan saya tersebut. Beliau memberikan eksposisi Ef 6 dari sudut pandangnya. Baginya, teks tersebut tak bisa dijadikan dasar untuk menolak penggunaan kitab agama lain dalam apologetika. Kami lalu terlibat diskusi didalamnya.
Berikut adalah beberapa keberatan dari pengkhotbah Kristen (PK) tersebut:

PK: Memang ada lontaran ekspansif (memberitakan Injil), tetapi lontaran ini diberikan dalam konteks di mana Paulus mengasumsikan bahwa ketika pemberitaan Injil itu diberikan, akan ada perlawanan dari si jahat (lihat “panah api si jahat”). Dan dalam rangka mempertahankan diri inilah, Paulus memberitahukan kepada orang percaya supaya mereka mengenali instrument-instrumen pertahanan rohani yang sudah disediakan Tuhan bagi orang-orang percaya.

Tanggapan saya:
Baik, sekarang kita lihat konteksnya: Bagian ini didahului oleh adanya perintah dari Tuhan agar ‘Hendaklah kamu kuat’ (ayat 10). Seperti yang kita ketahui, ini adalah kata kerja bentuk perintah (present imperative) yaitu perintah yang harus dilakukan terus-menerus. Mengapa ada perintah ini? Supaya dapat bertahan melawan tipu muslihat iblis (ayat 11b) yaitu kuasa kegelapan / kekuatan jahat (ayat 12). Serangan setan (lewat pergumulan, dsb) pasti akan datang menghampiri orang percaya. Bagaimana supaya kuat? Kita harus mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah (ayat 11a). Apa saja senjata Allah itu? Kebenaran, keadilan, pemberitaan Injil, iman, dan firman Tuhan.

Anda mengatakan bahwa pemberitaan Injil, ada dalam konteks dimana Paulus memaksudkan bahwa dengan hal itu akan menyebabkan adanya perlawanan dari si jahat. Jadi disini ‘pemberitaan Injil’ adalah hal yang pertama (sebelum adanya serangan si jahat) dan ‘perlawanan dari si jahat’ adalah hal kedua / akibat yang ditimbulkan setelah Injil itu diberitakan.

Saya kira kesimpulan anda ini justru tak cocok dengan konteks ayat yang dimaksudkan. Mengapa? Karena konteks justru menunjukkan bahwa ‘pemberitaan Injil’ itu dilakukan sebagai bentuk ‘pembelaan diri’ untuk dapat bertahan dan melawan segala tipu muslihat iblis.

Lihat ayat 13: “Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.”

Perlengkapan senjata Allah itu diperlukan dalam rangka menghadapi “hari yang jahat itu”. Kata-kata “hari yang jahat” menunjuk pada hari atau saat dimana setan akan menyerang orang percaya. Ketika ada serangan setan, kita diperintahkan untuk melawan dengan menggunakan seluruh perlengkapan senjata Allah, diantaranya adalah ‘pemberitaan Injil’ dan penggunaan ‘pedang roh’ yaitu Firman Tuhan. Jadi sebetulnya, serangan setan itu ada lebih dulu, lalu ditangkis dengan berbagai senjata Allah itu.  


PK: Dari latar belakang historis ini, kita mendapati sebuah ide yang pasti bahwa “peperangan Kristen” yang dibicarakan dalam Efesus 6:20 ini berhubungan erat dengan penderitaan Paulus [dan juga orang-orang percaya] dalam memberitakan Injil Yesus Kristus. Apa maksudnya? Maksudnya bahwa iblis melancarkan serangan terhadap Paulus yang sedang memberitakan Injil Kristus itu dengan cara membuatnya mengalami penderitaan demi penderitaan, salah satunya penjara (Ef. 6:20; bnd. 2Kor. 6:22-26).

Tanggapan saya:
Saya setuju dengan pandangan anda ini. Jika ditinjau secara historis, maka ini memang bisa dihubungkan dengan penderitaan Paulus / serangan setan (penjara) saat dia memberitakan Injil. Tapi apakah ini lalu menentang kesimpulan saya mengenai konteks Ef 6 itu? Saya rasa tidak. Karena sekalipun serangan setan itu adalah akibat dari pemberitaan Injil, namun bukankah serangan setan itu bisa juga ada lebih dahulu lalu kita menangkisnya dengan ‘senjata Allah’ yaitu Injil / firman Tuhan?

PK: Apakah Efesus 6:10-20 Dapat Diaplikasikan sebagai Sebuah Larangan Untuk Menggunakan Kitab Suci Non-Kristen dalam Apologetika? Terhadap pertanyaan ini, saya menjawab dengan sangat yakin: Tidak! Penjelasan eksegetis di atas hanya menekankan tentang bagaimana orang-orang percaya dapat bertahan terhadap serangan balik si jahat ketika mereka memberitakan Injil.

Tanggapan saya:
Secara historis, ini memang bisa dibenarkan. Tetapi jika ditinjau dari struktur ayat-ayat ini, maka sebetulnya teks ini sedang menjelaskan bahwa saat kita alami pergumulan dan berperang dengan si jahat, kita di anjurkan untuk mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah (termasuk diantaranya ‘kerelaan memberitakan Injil’). Jadi, pemberitaan Injil adalah bagian dari senjata Allah yang harus digunakan dalam rangka menghadapi / melawan serangan setan.

Tentunya kita bisa menerapkan hal ini dalam hubungannya dengan apologetika. Pada saat setan menyerang dengan melontarkan berbagai ajaran sesat, kita bisa menangkisnya (atau menyerang balik) dengan menggunakan Injil / Firman Tuhan.

PK: Orang-orang percaya dapat bertahan karena:

  • Mereka sudah diselamatkan;
  • Mereka memiliki firman Allah
  • Mereka memiliki iman
  • Mereka hidup di dalam kebenaran dan keadilan
  • Mereka memiliki kuasa yang mereka peroleh dari doa, sebagai wujud hubungan yang intim dengan Tuhan.
Tuhan melindungi orang-orang percaya dengan perlengkapan yang sangat cukup dan kukuh. Panah api si jahat dan segala bentuk perlawanan baliknya, tidak akan membinasakan orang-orang percaya. Penderitaan, baik dalam bentuk penjara, misalnya, tidak akan menggagalkan keberlangsungan pemberitaan Injil.

Tanggapan saya:
Disini anda ‘membuang’ satu senjata lain, yaitu “pemberitaan Injil”. Menurut susunan teks dalam Ef 6 ini, pemberitaan Injil BUKAN penyebab dari adanya serangan setan, tapi senjata yang harus digunakan dalam menghadapi si jahat.

Saya melihat anda menukar kedua hal ini. Ini yang disebut eisegesis.

PK: Memang dalam apologetika, kita mengenal apa yang disebut dengan apologetika defensif, yakni apologetika yang berfokus pada bagaimana seorang apologet mempertahankan dan membuktikan kebenaran-kebenaran kristiani-Nya. Tetapi bukan hanya ini. Apologetika Kristen juga mengenal yang namanya apologetika ofensif. Apologetika ofensif berarti apologetika yang berfokus pada bagaimana seorang apologet Kristen menunjukkan absurditas keyakinan dari lawan-lawannya. Dalam rangka menjalankan tugas apologetika ini, tentu dasar argument kita adalah Alkitab, Firman Allah. Tetapi, tidak ada batasan yang jelas dari Efesus 6:10-20 bahwa kita SAMA SEKALI TIDAK BOLEH menggunakan Kitab Suci non Kristen demi argumentasi. Artinya, tugas apologetika lebih luas dari cakupan maksud dari Efesus 6:10-20 yang penekanannya adalan bagaimana seorang percaya mempertahankan diri terhadap serangan balik dari si jahat dalam pemberitaan Injil. 

Tanggapan saya:
Setuju dengan penjelasan anda tentang apologetika ofensif dan defensive. Tetapi point yang ditekankan (dan jangan dilupakan) dalam konteks Ef 6 adalah, kita HANYA mendasarinya pada Alkitab / firman Tuhan. Mengapa hanya Alkitab? Karena seluruh perlengkapan senjata Allah yang dibicarakan itu, SAMA SEKALI TIDAK MENYINGGUNG soal ‘kitab suci’ lain / non Kristen. Jadi, secara implicit kita bisa menafsirkan bahwa dalam berapologetika (sebagai salah satu usaha pembelaan diri dari ‘serangan setan’), kita HANYA diperbolehkan untuk menggunakan Injil / firman Tuhan dan bukan ‘kitab suci’ lain yang memang BUKAN firman Tuhan.  

Dengan menggunakan ‘kitab suci’ lain (misalnya Al-quran), ini akan menyebabkan beberapa hal:

  • Menentang ayat 15, yang menganjurkan kita untuk menggunakan Injil dalam pemberitaan.
  • Menjadikan Alquran sebagai perisai iman dan menentang ayat 16
  • Menjadikan Alquran sebagai ‘pedang Roh’ dan menentang ayat 17.

PK: Dan itu berarti, menggunakan Efesus 6:10-20 untuk menjawab pertanyaan di atas dengan IYA, merupakan tindakan eisegesis, memasukan ide asing yang tidak tercakup di dalam batasan maksud dari teks yang bersangkutan. Mengapa? Konteks dan penekanan di atas menjadi pembatas yang jelas bahwa kita tidak dapat menggunakan bagian ini untuk menjawab pertanyaan di atas. Dengan kata lain, teks ini tidak ditulis untuk menjawab pertanyaan mengenai apakah kita tidak boleh sama sekali menggunakan Kitab Suci non Kristen dalam berapologetika. Itulah sebabnya, dalam komentar awal saya kepada pace Albert, saya katakan bahwa saya TIDAK melihat bahwa teks ini harus diaplikasikan untuk mendukung posisi pace Albert. Intinya, pace Albert menggunakan teks yang tidak berbicara mengenai posisi yang dianut oleh pace Albert.

Tanggapan saya:
Saya sudah menjelaskan bagaimana latar belakang / konteks ayat tersebut. Menurut saya, justru andalah yang lakukan eisegesis.

Sampai disini, hamba Tuhan ini (yang juga adalah teman saya), lalu menghentikan diskusi dan tidak ingin melanjutkannya lagi dengan alasan yang tidak jelas.

Bagaimana saudara menilainya? Bukankah hanya Alkitab yang diilhamkan oleh Allah? Bukankah Injil itu adalah kabar baik yang bisa membawa manusia kepada keselamatan? Bukankah itu adalah senjata Allah yang harus kita gunakan? Lalu mengapa menggunakan kitab-kitab lain yang bukan senjata Allah??

Perhatikan 2 Tim 3:15 “Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.” Timotius sejak kecil telah diperkenalkan / mengenal Alkitab Perjanjian Lama. Kitab Suci inilah yang dapat memberi hikmat dan bahkan menuntun kepada keselamatan dalam Kristus. Bandingkan dengan istilah ‘Injil’ yang berarti kabar baik. Tentang apa? Tentang Yesus Kristus yang mati di salib menebus dosa manusia, dikuburkan, bangkit pada hari ketiga (1 Kor 15:3-4). Melalui Injil inilah manusia dapat diselamatkan (1 Kor 15:2). Al-Quran sendiri menyatakan bahwa Isa tidak dibunuh dan tidak di salib, lalu bagaimana mungkin kita menggunakan Qur’an? Tujuan Firman Tuhan / Injil di catat adalah supaya manusia percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya oleh iman ini, manusia beroleh hidup dalam nama-Nya (Yoh 20:30-31). Benarkah Al-Qur’an juga mempunyai tujuan yang sama? Bukankah Qur’an dengan terang-terangan menentang keilahian Yesus?

Namun lebih dari pada itu, kita percaya bahwa hanya Alkitab yang adalah firman Tuhan dan satu-satunya standar kebenaran mutlak! Seharusnya itu yang menjadi dasar iman dan ‘pedang Roh’, bukan pada kitab-kitab agama lain. Pada saat saudara menggunakan kitab-kitab lain, maka saudara sedang mengakui kebenarannya, dan secara tidak langsung menjadikannya sebagai ‘firman Tuhan’ yang juga patut diyakini / diimani.

Hanya Alkitab yang adalah wahyu khusus dari Allah yang dapat menuntun manusia pada keselamatan dalam Kristus. Kitab-kitab agama lain (termasuk tulisan Kong Hu Cu, dsb), bahkan bukanlah wahyu umum!

Pdt. Stephen Tong: “Apa yang di tulis Kong Hu Cu bukan wahyu umum...”

Saya sungguh aneh dan merasa geli, dengan pernyataan seorang hamba Tuhan / pengkotbah yang menganggap bahwa kitab-kitab agama lain berisi ‘jejak-jejak kebenaran’ / wahyu umum dan karena itu, dapat digunakan dalam berapologi. Saya kira ini adalah suatu tindakan yang bodoh!

Jika kitab-kitab agama lain bukan wahyu Allah yang dapat membawa manusia kepada keselamatan melalui iman pada Kristus, lalu mengapa orang Kristen harus menggunakannya??


Bagaimana sikap Yesus, para rasul dan bapa-bapa gereja?

Yesus dan para tokoh Alkitab 

Disepanjang Alkitab, kita tak pernah menemukan para rasul (termasuk Yesus) yang saat berdebat, mereka gunakan kitab lain. Justru sebaliknya, mereka berpegang teguh pada prinsip Sola Scriptura / hanya Alkitab!

  • Yesus sendiri saat menghadapi serangan setan, Dia hanya menggunakan Alkitab Perjanjian Lama (Mat 4:1-10). Sebanyak tiga kali Setan menyerang-Nya, tetapi sebanyak itu pula Yesus menangkisnya dengan Kitab Suci. Disini Yesus sedang menekankan betapa pentingnya penggunaan Alkitab itu.
  • Paulus menggunakan berita Injil dalam berapologetik. Saat dia berhadapan dengan orang-orang di Atena, Paulus hanya menggunakan berita Injil sebagai dasar apologinya.
    Kis 17:17-18  “(17) Karena itu di rumah ibadat ia bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang yang takut akan Allah, dan di pasar setiap hari dengan orang-orang yang dijumpainya di situ. (18) Dan juga beberapa ahli pikir dari golongan Epikuros dan Stoa bersoal jawab dengan dia dan ada yang berkata: ‘Apakah yang hendak dikatakan si peleter ini?’ Tetapi yang lain berkata: ‘Rupa-rupanya ia adalah pemberita ajaran dewa-dewa asing.’ Sebab ia memberitakan Injil tentang Yesus dan tentang kebangkitanNya”.Bandingkan dengan Fil 1:7,16
    “(7) Memang sudahlah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu semua, sebab kamu ada di dalam hatiku, oleh karena kamu semua turut mendapat bagian dalam kasih karunia yang diberikan kepadaku, baik pada waktu aku dipenjarakan, maupun pada waktu aku membela dan meneguhkan Berita Injil. ... (16) Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, sebab mereka tahu, bahwa aku ada di sini untuk membela Injil”.
  • Apolos dalam berdebat dengan orang-orang Yahudi, hanya menggunakan Kitab Suci untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias.
    Kis 18:27b-28 “… Setibanya di Akhaya maka ia, oleh kasih karunia Allah, menjadi seorang yang sangat berguna bagi orang-orang yang percaya. Sebab dengan tak jemu-jemunya ia membantah orang-orang Yahudi di muka umum dan membuktikan dari Kitab Suci bahwa Yesus adalah Mesias.”

Bapa-bapa gereja

Para bapa Gereja pertama (seperti Ignatius, Polycarp, Clement, dsb) sering membela kekristenan melawan bidah. Tetapi dalam pelaksanaannya, mereka berpegang hanya kepada Alkitab saja.

Demikian pula dengan Irenaeus dan Tertullian. Sejarawan gereja, Ellen Flessman-van Leer menegaskan kebenaran ini: "Bagi Tertullian, Ayat Suci adalah satu-satunya metode untuk menolak dan mensahkan suatu doktrin berdasarkan isinya… Bagi Irenaeus doktrin Gereja pasti tak akan pernah murni tradisional; sebaliknya, pemikiran bahwa disana ada beberapa kebenaran, disampaikan semata-mata hanya lewat mulut (lisan), adalah merupakan jalan pikiran kaum Gnostic… Bila Irenaeus ingin membuktikan kebenaran suatu doktrin secara material, ia merujuk kepada Ayat Suci, karena disitulah ajaran para rasul dapat diperoleh secara obyektif. Bukti dari tradisi dan Ayat Suci menyodorkan akhir yang tunggal dan sama: untuk memperkenalkan ajaran Gereja sebagai ajaran Kerasulan yang asli. Yang pertama membuktikan bahwa ajaran Gereja adalah ajaran rasul, dan yang kedua, apa ajaran rasul itu."  (Ellen Flessman-van Leer, Tradition and Scripture in the Early Church [Assen: Van Gorcum, 1953] pp. 184, 133, 144).

J.N.D. Kelly: "Bukti yang paling jelas mengenai martabat Ayat Suci adalah kenyataan bahwa hampir semua usaha keagamaan para Bapa rasul, apakah tujuan mereka menimbulkan polemik atau pun konstruktif, dicurahkan pada apa yang disebut sebagai penjelasan Alkitab secara terperinci. Selanjutnya, sudah menjadi anggapan dimanapun bahwa, agar suatu doktrin dapat diterima, haruslah pertama-tama menunjukkan dasar Ayat Sucinya". (J. N. D. Kelly, Early Christian Doctrines (San Francisco: Harper & Row, 1978), pp. 42, 46.).


Para tokoh Reformasi

Para tokoh reformasi abad ke-16 seperti Martin Luther, menekankan Sola Scriptura, untuk kembali pada Alkitab yang adalah otoritas tertinggi dalam kehidupan orang percaya. John Calvin, teolog Reformasi yang adalah ‘raja dari penafsir’, membuat The Institutes of The Christian Religion, sebuah karya apologetik yang mempertahankan kebenaran Alkitab. Dia menekankan tentang pentingnya ‘Kitab Suci menafsirkan Kitab Suci.’ Ulrich Zwingli, yang secara umum mengikuti teologi Calvin, menolak semua pandangan yang tidak diajarkan oleh Kitab Suci.

Zwingli begitu menekankan pentingnya Alkitab. “Karyanya sebagai reformator berdasarkan pada prinsip… bahwa semua hal-hal yang diperdebatkan harus diputuskan berdasarkan firman Allah. Zwingli selalu berusaha untuk mendasarkan tindakan-tindakannya atas pengajaran Alkitab dan menghadapi oponen-oponennya, baik Roma Katolik, Lutheran, atau Anabaptis, dengan argumentasi-argumentasi Alkitabiah…” (Geoffrey W. Bromiley, Historical Theology: An Introduction [Grand Rapids: Eerdmans, 1978], hal 214).

Perdebatan-perdebatan yang muncul pada masa ini (misalnya tentang doktrin penebusan, dsb), selalu bermuara pada Alkitab sebagai dasarnya.

“Luther di Jerman dan Zwingli serta Calvin di Switzerland menyebarkan pengajaran Kitab Suci dari mimbar dan melalui tulisan yang berjilid-jilid” (Paul Enns, The Moody Handbook of Theology, Vol 2, hal. 70).


Kesimpulan

Hanya ada satu wahyu khusus dan satu kebenaran tunggal yang berasal dari Allah yang dimiliki oleh manusia, yaitu Alkitab. Kitab Suci inilah yang dapat menuntun manusia kepada keselamatan kekal yang tak pernah bisa didapatkan di kitab-kitab lain.

Menggunakan kitab-kitab agama lain saat berapologetik, akan menentang Efesus 6:15-17 yang memerintahkan kita untuk hanya memberitakan Injil yang adalah firman Tuhan. Alkitab adalah satu-satunya ‘pedang Roh’ yang dapat memadamkan panah api si jahat / serangan setan.

Sola Scriptura seharusnya menjadi somboyan / semangat setiap orang Kristen. Ini sebagai wujud kesetiaan, ketundukan dan penghormatan pada Kitab Suci.

Yoh 10:27 "Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku, dan Aku mengenal mereka, dan mereka mengikut Aku"

Monday, September 19, 2011

TANGGAPAN ATAS PEMAHAMAN PDT. TEGUH HINDARTO M.TH TENTANG HUKUM TAURAT

TANGGAPAN ATAS PEMAHAMAN PDT. TEGUH HINDARTO M.TH TENTANG HUKUM TAURAT

Berikut adalah tulisan dari Pdt. Teguh Hindarto M.Th, tentang kesalahan terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia soal “pembatalan hukum Taurat” di Efesus 2:15 dan yang langsung saya tanggapi.


Pdt. Teguh Hindarto:

APAKAH TORAH TELAH DIBATALKAN MENURUT EFESUS 2:15?

Terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia menuliskan, “sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera,…”.

Benarkah Efesus 2:15 membicarakan “pembatalan Torah?” Marilah kita mengulas teks dan konteks Efesus 2:15, agar mendapatkan pengertian yang wajar dan proporsional mengenai hakikat Torah.

Jika benar terjemahan diatas, mengapa pada banyak ayat lain, Rasul Paul mengatakan “jika demikian, adakah kami membatalkan Torah karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya” (Rm 3:31). Demikian pula dibagian lain dikatakan, “Jika demikian, apakah yang hendak kukatakan? Adakah Hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh Hukum Taurat aku telah mengenal dosa” (Rm 7:7). Bahkan dengan tegas Rasul Paul mengatakan, “Jadi Hukum Taurat adalah kudus dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik” (Rm 7:12). Bagaimana mungkin disatu pihak Rasul Paulus mengatakan bahwa Torah tidak dibatalkan, kudus dan baik namun dipihak lain berkata Torah dibatalkan??
Tanggapan saya:

Roma 3:31 “Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya.”

Ayat ini dilatarbelakangi oleh adanya penegasan oleh rasul Paulus tentang keselamatan yang hanya diperoleh lewat iman pada Kristus. Perhatikan ayat-ayat berikut:

Roma 3:19-22 “Tetapi kita tahu, bahwa segala sesuatu yang tercantum dalam Kitab Taurat ditujukan kepada mereka yang hidup di bawah hukum Taurat, supaya tersumbat setiap mulut dan seluruh dunia jatuh ke bawah hukuman Allah. Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa. Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi, yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan.”

Rom 3:24-25 “dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya.”
Rom 3:27-30 “Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat. Atau adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain! Artinya, kalau ada satu Allah, yang akan membenarkan baik orang-orang bersunat karena iman, maupun orang-orang tak bersunat juga karena iman."
Jika Paulus memaksudkan ‘tidak membatalkan hukum Taurat tetapi meneguhkannya’ sebagai ‘semua orang baik Yahudi dan non Yahudi harus melakukan semua ketetapan dalam hukum Taurat’ (seperti pemahaman Hindarto), maka ini akan menentang konteks dalam pasal 3 (ayat 28 dan 30). Ayat 28 menegaskan bahwa pembenaran diterima bukan karena seseorang melakukan hukum Taurat, tapi karena iman pada Kristus. Lalu dalam ayat 30, Paulus menjelaskan tentang orang non Yahudi / tidak bersunat (yang tentunya tidak melakukan Taurat), tetapi ternyata juga diterima karena iman.

Maksud dari kata ‘meneguhkan’ di ayat 31, tentunya berhubungan dengan prinsip-prinsip dalam hukum Taurat yang semakin diteguhkan dalam PB (bukan berhubungan dengan pelaksanan semua ketentuan dalam Taurat) Bdk. Ef 2:15.

Jadi, kata-kata “tidak membatalkan hukum Taurat” yang dimaksud dalam Rom 3:31, itu dikaitkan dengan persoalan ‘iman pada Kristus’. Setelah menjelaskan tentang keselamatan yang hanya oleh iman, Paulus kemudian menjelaskan lebih lanjut bahwa apa yang dikatakannya itu, bukan bertujuan untuk membatalkan hukum Taurat, tetapi disini Paulus sedang menentang keselamatan melalui ketaatan pada hukum Taurat!

Bagaimana dengan Rom 7:7 dan ayat 12?

Roma 7:7 “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: "Jangan mengingini!" 

Roma 7:12 “Jadi hukum Taurat adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik.”

Kedua ayat ini juga tidak mengisyaratkan adanya pembatalan hukum Taurat. Konteks ayat ini, sedang menjelaskan hubungan antara dosa dengan hukum Taurat. Dalam Rom 7:7-25 Paulus menceritakan pergumulan yang dialaminya. Dia adalah seorang yang mengerti hukum Taurat / taat (Bdk. Kis 26:4; Fil 3:6), tapi anehnya, dosa itu tetap ada (Rom 7:21-23), bahkan semakin nyata. “Apakah hukum Taurat itu dosa?” Paulus menjawab “sekali-kali tidak!”. Lalu bagaimana? Justru adanya hukum Taurat, dosa itu dinyatakan / ditunjukkan secara jelas. Dosa itu mengakibatkan kematian rohani; “Aku manusia celaka!” (ayat 24), namun dia bersyukur karena Kristus adalah pembebasnya. Tetapi walau bagaimanapun, Paulus menegaskan bahwa hukum Taurat itu benar dan kudus.

Ayat-ayat yang dipersoalkan pak Teguh ini, sebetulnya tidak sedang menitikberatkan / menekankan pada boleh tidaknya hukum Taurat dibatalkan, namun Paulus sedang menjelaskan hubungan antara manusia, dosa, keselamatan dengan hukum Taurat. Jadi, semua ayat-ayat ini tidak menyebabkan dia menentang kata-katanya sendiri / firman Tuhan di Ef 2:15.

Pdt. Teguh Hindarto:

Jika terjemahan Efesus 2:15 benar demikian, bagaimana jika diperhadapkan dengan perkataan Mesias sendiri, "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Mat 5:17)? Apakah Paulus lebih tinggi dari Yesus Sang Mesias sehingga membuat pernyataan yang berlawanan dengan Yesus Sang Mesias yang dikasihinya?
Tanggapan saya:

Jika Ef 2:15 dipahami bahwa semua aturan / ketetapan dalam hukum Taurat dibatalkan / dihapuskan, maka itu memang akan bertentangan dengan Mat 5:17. Namun, haruskah dipahami seperti itu? Tentu tidak! Bagian ini akan dijelaskan dibawah.

Pdt. Teguh Hindarto:

Konteks Efesus pasal 2 harus diperhatikan secara seksama dan secara keseluruhan. Untuk mengetahui “apa yang dibatalkan” atau “apa yang dirobohkan”, kita akan menelusuri berdasarkan konteks perikop Efesus 2. Surat ini secara khusus ditujukan pada orang kudus yang tinggal di Efesus (Ef 1:1). Agaknya merupakan campuran Yahudi dan non Yahudi. Ini tersirat dari kata-kata, “kamu bukan Yahudi secara daging” (Ef 2:11), “orang-orang tidak bersunat” (Ef 2:11), “tidak termasuk kewargaan Israel” (Ef 2:12), “tanpa ketetapan” (Ef 2:12), “tanpa pengharapan dan tanpa Tuhan didalam dunia” (Ef 2:12).

Kondisi yang digambarkan oleh Rasul Paulus diatas telah berubah setelah mereka menerima Sang Mesias sebagaimana dijelaskan, “Tetapi SEKARANG didalam Sang Mesias kamu yang dahulu jauh, sudah menjadi dekat oleh darah Sang Mashiah” (Ef 2:13). Hasil penerimaan Yesus Sang Mesias menurut Paul adalah “dipersatukan” (Ef 2:14, “diperdamaikan” (Ef 2:16), “persatuan kedua belah pihak, yaitu Yahudi dan non Yahudi didalam Yesus” (Ef 2:18-21), untuk dipakai “menjadi Bait Tuhan” (Ef 2:22). Jika kita jujur dan obyektif membaca keseluruhan konteks Efesus pasal 2, ssungguhnya Paul sedang membicarakan mengenai HUBUNGAN YAHUDI DAN NON YAHUDI YANG TELAH DIPERSATUKAN DIDALAM YESUS MELALUI KEMATIANNYA, SEHINGGA PERSETERUAN ATAU TEMBOK YANG MEMISAHKAN YAHUDI DAN NON YAHUDI, TELAH DIROBOHKAN!

Jika konteksnya demikian, maka yang “dibatalkan” atau “dirobohkan” adalah PERSETERUAN  antara Yahudi dan non Yahudi dan bukan Torah itu sendiri. Menurut DR. David Stern, perseteruan antara Yahudi dan non Yahudi mngandung empat komponen: (a) Kecemburuan non Yahudi atas status Israel sebagai bangsa pilihan, (b) Yahudi merasa bangga dengan status sebagai bangsa pilihan, (c) Non Yahudi benci dengan kebanggaan status tersebut, (d) Ketidaksukaan terhadap kebiasaan atau tradisi yang berbeda[1]
Tanggapan saya:

Memang benar, konteks ayat ini, juga bicara soal hubungan orang Yahudi dan non Yahudi yang dipersatukan dalam Kristus. Kata-kata “kedua pihak” di ayat 14, menunjuk pada orang Yahudi dan non Yahudi. Diantara mereka ada ‘tembok pemisah’ yaitu ‘perseteruan’. Di bait Allah, ada tembok pemisah yang memisahkan tempat orang Yahudi beribadah dan non Yahudi (pengunjung). Sebuah tulisan ditembok yang memberi ancaman hukuman mati bagi orang non Yahudi, mungkin merupakan bukti ‘perseteruan’ itu. Menurut Dr. William Barclay, orang Yahudi bahkan beranggapan bahwa orang non Yahudi / kafir, diciptakan Allah hanya sebagai bahan bakar di neraka! Saat Kristus mati, ‘tembok pemisah’ itu dirobohkan!

Pdt. Hindarto menafsirkan kata ‘telah membatalkan’ di Ef 2:5 sebagai ‘robohnya tembok pemisah / perseteruan antara orang Yahudi dan non Yahudi.’ Sepintas hal ini sepertinya memang bisa diterima. Tapi apakah memang demikian? Lalu mau dikemanakan kalimat ini: “sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya…”? Jika kita melihat secara teliti, kata ‘telah membatalkan’ (καταργήσας) di ef 2:15 dan kata ‘merubuhkan’ di ayat 14, adalah dua kata yang menjelaskan hal yang berbeda. Kata ‘merubuhkan’ dihubungkan dengan ‘tembok pemisah’ yaitu perseteruan. Tetapi kata ‘membatalkan’ dihubungkan dengan ‘hukum Taurat’ dengan ‘perintah’ dan ‘ketentuannya’. Menurut saya, adalah keliru jika istilah ‘membatalkan’  pada ayat 15 ini diartikan sebagai ‘merobohkan perseteruan antara orang Yahudi dan non Yahudi’ (ayat 14). Sekalipun ‘robohnya tembok pemisah / perseteruan antara orang Yahudi dan non Yahudi’ adalah bagian / termasuk dalam akibat dari kematian Kristus.

“Nestle (dan naskah UBS) menempatkan koma dibelakang echthtra (ay. 14). Hal itu berarti, bahwa echtra adalah obyek dari “lusas” (= telah merombak, telah memusnahkan) dan bahwa ton nomor ton entoloon (= hukum Taurat dengan perintah-perintah) bukanlah keterangan dari echtra. Anggapan ini, seperti yang telah kita katakan diatas, mempunyai dasar yang kuat” (‘Tafsiran Alkitab’ surat Efesus, Dr. J.L. Ch. Abineno, hal. 71).

Pdt. Teguh berkata: “Menurut DR. David Stern, perseteruan antara Yahudi dan non Yahudi mengandung empat komponen: (a) Kecemburuan non Yahudi atas status Israel sebagai bangsa pilihan, (b) Yahudi merasa bangga dengan status sebagai bangsa pilihan, (c) Non Yahudi benci dengan kebanggaan status tersebut, (d) Ketidaksukaan terhadap kebiasaan atau tradisi yang berbeda”. Jika kata-kata ‘telah membatalkan’ (yang seharusnya dihubungkan dengan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya) berarti ‘merobohkan perseteruan Yahudi dan non Yahudi’, maka silahkan tunjukkan mana perintah dan ketentuan dalam Taurat / PL yang berisikan perseteruan antara orang Yahudi dan non Yahudi yang dijabarkan dalam empat komponen itu?

Jika kita meneliti dengan seksama, maka konteks dalam Ef 2:15, sebenarnya berbicara tentang akibat yang ditimbulkan pada saat kematian Yesus Kristus.

Kematian Kristus menyebabkan beberapa hal:
  • Dinding pemisah antara orang Yahudi dan non Yahudi dirubuhkan (ayat 14).
  • Dibatalkannya 'Hukum Taurat' (ayat 15)
  • Manusia diperdamaikan dengan Allah (ayat 16)
Sekarang yang menjadi persoalannya adalah, mengapa hukum Taurat dibatalkan?

Hal pertama yang perlu dimengerti adalah, istilah ‘Hukum Taurat’ dalam Alkitab, itu  memiliki beberapa arti. Bisa menunjuk pada 5 kitab Musa, 10 hukum Tuhan atau seluruh PL. Jika kita melihat konteks Ef pasal 2, maka kita akan menemukan kata-kata “karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa.” (ayat 18, bdk Ef 3:12) dan “Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.” (ayat 22). Bandingkan juga dengan kata-kata ‘tembok pemisah yaitu perseteruan’ (ayat 14). ‘darah Kristus’ (ayat 13) yang menunjuk pada kurban persembahan. lalu ‘bait Allah’ (ayat 21). Zaman PL, orang tak bisa masuk ke ruang maha suci. Imam besar adalah pengantara antara Allah dan manusia. Kematian Kristus adalah anti type-nya, Kristus adalah imam besar dan satu-satunya pengantara antara Allah dan manusia (Ibr 3:1; 1 Tim 2:5). Selanjutnya, Orang percaya menjadi bait Allah / tempat kediaman-Nya (yang sebelumnya pada zaman Taurat / PL, kehadiran Allah dinyatakan lewat bangunan kemah suci / Bait Allah) -  Ef 1:13; 1 Kor 3:16.

Semua ini adalah hal-hal yang menyangkut seremoni agama Yahudi (Bdk. dengan terbelahnya tirai Bait Allah dalam Mat 27:51 saat kematian-Nya). Tirai bait suci  yang memisahkan ruang suci dan ruang maha suci, adalah type dari terpisahnya Allah dan manusia yang kemudian diperdamaikan saat kematian Kristus. Jadi, istilah ‘hukum Taurat’ yang dimaksud di Ef 2:15 ini, mengandung arti yang lebih sempit, yang menunjuk pada hukum-hukum yang berhubungan dengan upacara keagamaan. Kematian Kristus yang ‘membatalkan hukum Taurat’ mengandung arti bahwa semua hukum upacara keagamaan seperti penggunaan imam, persembahan korban penghapus dosa, sunat, dsb, itu dihapuskan! Bandingkan Kol 2:16-17

“Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; Semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus.”

Sekarang saya akan menjawab serangan dari Pdt. Teguh Hindarto: “Jika terjemahan Efesus 2:15 benar demikian, bagaimana jika diperhadapkan dengan perkataan Mesias sendiri, "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Mat 5:17)? Apakah Paulus lebih tinggi dari Yesus Sang Mesias sehingga membuat pernyataan yang berlawanan dengan Yesus Sang Mesias yang dikasihinya?

Jawaban saya: ‘Pembatalan Hukum Taurat’ dalam Ef 2:15, tidak dimaksudkan bahwa seluruh ketetapan-ketetapan / aturan / perintah Tuhan dalam hukum Taurat dihapuskan! Saya akan menyoroti kata ‘meniadakan’ dan kata ‘menggenapi’ dalam teks Mat 5:17.
  • Kata ‘meniadakan’. Apa yang tidak ditiadakan? Hukum Taurat! Seperti yang sudah dijelaskan diatas, istilah ‘hukum Taurat’ memiliki beberapa arti. Lalu apa arti ‘hukum Taurat’ menurut ayat ini? Silahkan lihat konteksnya: Ayat 17 dan 18 merupakan penegasan dari Tuhan Yesus soal ketidakmungkinan ditiadakan / dibatalkannya hukum Taurat. Lalu Ayat 19-20 menjelaskan konsekwensi dari ketidaktaatan seseorang pada hukum Taurat. Tetapi mulai ayat 21-48 bahkan sampai pasal 6 dan 7, semua bicara tentang hal-hal yang berhubungan dengan moral, seperti soal pembunuhan, perzinahan, perceraian, kasih, dsb. Jika diayat 17 dan 18 bicara soal hukum Taurat yang tidak bisa dibatalkan, maka ayat 21-48, dst, memberi penjelasan lebih lanjut tentang ‘hukum Taurat’ yang mana yang tak bisa ditiadakan / dibatalkan itu. Dari konteksnya, maka yang tidak bisa dibatalkan disini adalah hukum-hukum moral dalam hukum Taurat.  
  • Kata ‘menggenapi’. Lihat bagian akhir dari ayat tersebut. Yesus berkata: “Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya”. Apanya yang digenapi? The Wycliffe Bible Commentary: “Kristus menanggapi Perjanjian Lama dengan mentaati hukum Taurat secara sempurna, dengan menggenapi semua lambang dan nubuatnya, dan dengan menjalani sepenuhnya hukuman dari hukum Taurat selaku pengganti orang-orang berdosa” (Hal 35). Kedatangan Yesus bukanlah untuk meniadakan hukum Taurat / Perjanjian Lama, tetapi untuk menggenapi (semua bayangan / type dari Kristus atau nubuatan di PL). 
Jawaban dari pertanyaan: "Apakah Ef 2:15 bertentangan dengan Mat 5:17-18?" Tentu saja tidak! ‘Hukum Taurat’ yang dimaksud dalam Ef 2:15 menunjuk pada upacara-upacara dalam hukum Musa / Taurat. Tetapi Mat 5:17 menunjuk pada hukum moral.

Pdt. Teguh Hindarto:

Atas dasar pemahaman diatas, Efesus 2:15 yang dalam teks Greek berbunyi, “en exthran en te sarki hautou ton nomon ton entolon en dogmasi, katargesos ina tous duo ktise en heatoi eis ena kainon anthropon, poion eirenen”[2], tidak tepat diterjemahkan sebagaimana Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkannya.

DR. David Stern menerjemahkan sbb: “The Messiah has broken down the m’chitzah which divided us , by destroying in his own body the enmity occasioned by the Torah, with its command set forth in the form of ordinances”[3] (Sang Mesias telah merobohkan tembok yang memisahkan kita, dengan melenyapkan dalam tubuh-Nya, m’chitzah {tirai} yang terjadi melalui Torah, dengan ketetapan yang dinyatakan dalam bentuk perintah-perintahnya). Sementara itu DR. James Trimm menerjemahkan, “And enmity (by his flesh, and the Torah, because of Commands in His Commandement) is abolished”[4] (Dan perseteruan {oleh tubuh-Nya dan Torah disebabkan Perintah-perintah dalam Ketetapan-Nya} telah dilenyapkan)”.

[1] Op.Cit., Jewish New Testament Commentary, JNTP, 1992, p.585

[2] Barbara Kurt Alland, etc., The Greek New Testament, 1998

[3] Op.Cit., Jewish New Testament, JNTP, 1989

[4] Op.Cit., The Hebraic Roots Version Scriptures

Tanggapan saya:

Mari kita lihat Ef 2:15 dalam teks Yunani:

“εν τη σαρκι αυτου τὸν νόμον τῶν ἐντολῶν ἐν δόγμασιν καταργήσας, ἵνα τοὺς δύο κτίσῃ ἐν αὐτῷ εἰς ἕνα καινὸν ἄνθρωπον ποιῶν εἰρήνην”

PB Interlinear Yunani-Indonesia: εν {di dalam} τη σαρκι {tubuh} αυτου {Nya} τὸν νόμον {hukum Taurat} τῶν ἐντολῶν (dari perintah-perintah} ἐν {yang terdiri dari} δόγμασιν {ketentuan-ketentuan} καταργήσας, {telah membatalkan} ἵνα {supaya} τοὺς δύο {dua} κτίσῃ {Ia menciptakan} ἐν {di dalam} αὐτῷ {diri-Nya} εἰς {menjadi} ἕνα {satu} καινὸν {baru} ἄνθρωπον {manusia} ποιῶν {(untuk) mengadakan} εἰρήνην {perdamaian}.

“Menurut konstruksi kalimat ini, en tei sarki autou (= dalam daging-Nya) harus dihubungkan dengan katergosas (= telah membatalkan, telah memusnahkan): sarks disini dianggap sebagai “tempat”, dimana Kristus telah menang oleh sengsara dan kematian-Nya.” (‘Tafsiran Alkitab surat Efesus’: Dr. J.L. Ch. Abineno, hal. 71).

Lebih lanjut, Dr. Abineno berkata: “Apakah yang telah Ia (= Kristus) batalkan / musnahkan didalam daging-Nya? Jawab Paulus: hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya”.
Secara harfiah ayat ini berbunyi: “Di dalam daging-Nya (tubuh-Nya) Ia telah membatalkan Hukum Taurat dengan perintah-perintah dan ketentuan-ketentuannya"

Bandingkan dengan berbagai versi berikut ini:

KJV“Having abolished in his flesh the enmity, even the law of commandments contained in ordinances; for to make in himself of twain one new man, so making peace;”
RSV“by abolishing in his flesh the law of commandments and ordinances, that he might create in himself one new man in place of the two, so making peace”

NIV: "by setting aside in his flesh the law with its commands and regulations. His purpose was to create in himself one new humanity out of the two, thus making peace,"

NASB"by abolishing in His flesh the enmity, which is the Law of commandments contained in ordinances, so that in Himself He might make the two into one new man, thus establishing peace,"
YLT: “the enmity in his flesh, the law of the commands in ordinances having done away, that the two he might create in himself into one new man, making peace”

ASV"having abolished in the flesh the enmity, even the law of commandments contained in ordinances; that he might create in himself of the two one new man,'so making peace;"

Terjemahan LAI: “Sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera”

Menurut saya terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia sudah benar. Dan jika kita meninjau konteks ayat ini, maka penafsiran Pdt. Teguh Hindarto yang menolak adanya pembatalan ‘hukum Taurat’ menurut Ef 2:15, jelas tak bisa dipertanggungjawabkan. Saya rasa ini hanya bentuk pembelaan Hindarto untuk membenarkan konsepnya yang ngawur tentang tetap berlakunya / dipertahankannya hukum-hukum upacara tertentu dalam agama Yahudi.


Sumber bacaan:

[1]  ‘Tafsiran Alkitab surat Efesus’: Dr. J.L. Ch. Abineno, BPK 2009

[2]  ‘Masih Relevankah Perjanjian Lama di Era Perjanjian Baru’: John S. Feinberg, Editor. Gandum Mas, 2003

[3]  ‘Eksposisi Efesus 2:11-22’: Pdt. Budi Asali, M.Div

[4]  The Wycliffe Bible Commentary

[5]  PB Interlinear Yunani-Indonesia: Hasan Sutanto, D.Th, LAI 2006



source : https://albertrumampuk.blogspot.com/search?q=TANGGAPAN+ATAS+PEMAHAMAN+PDT.+TEGUH+HINDARTO+M.TH+TENTANG+HUKUM+TAURAT